Halaman

Kamis, 02 Oktober 2014

TERMOTIVASI OLEH KESUKARAN



Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran.” 
(2 Korintus 6:4)
 
Ia sangat pandai membuat kue. Terbukti kue-kue buatannya lezat dan banyak disukai orang. Suatu hari saya menanyainya, mengapa ia lebih suka membuat kue daripada memasak biasa. Ia menjawab, membuat kue itu lebih sukar dan lebih rumit. Contohnya, kalau kue sudah dipanggang dan lupa diberi gula, maka tak bisa diperbaiki; sedangkan dalam memasak, orang bisa menambahkan gula kapan pun ia mau. Selain itu, resep yang tepat dapat menghasilkan masakan yang lezat. Tetapi, untuk menghasilkan cake yang lezat tak cukup mengandalkan resep. Kue yang bagus ditentukan oleh bahan, pengocokan, pemanggangan, dan pengaturan panasnya.
Pembuat kue ini termasuk orang yang termotivasi oleh kesukaran. Pelayanan Paulus dan timnya juga termotivasi oleh penderitaan atau kesukaran. Kesukaran tak jadi alas an bagi Paulus untuk bersikap buruk atau menjadi batu sandungan. Sebaliknya, ia membuktikan kredibilitasnya sebagai pelayan Tuhan. Melalui penderitaan dan kesukaran yang ia hadapi, ia justru menjadi semakin murni dan dewasa kerohaniannya, serta semakin banyak memberkati orang lain.
Sering kali orang termotivasi oleh uang, hadiah, atau pujian, tetapi patah arang bila menemui kesukaran, lalu menggerutu, mencela Tuhan, atau bersikap buruk yang lain. Padahal, kesukaran itu alat Tuhan untuk memperbaiki cara hidup kita “Karena TUHAN memberi ajaran kepada yang dikasihi-Nya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi.” (Amsal 3:12), untuk menguji dan memurnikan kita “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan,” (Roma 5:3), dan untuk mendekatkan kita kepada Tuhan “Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu.” (Mazmur 119:67). Bersukacitalah dalam kesukaran sebab kesukaran bisa mendatangkan kebaikan.
“Saudara bisa termotivasi oleh kesukaran atau malah dipatahkan olehnya, itu pilihan Saudara.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati

BEBAN YANG RINGAN



“Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:30)

Ketika membuka-buka google mencari berita, ketika itu saya membaca sebuah berita yang dimana isi berita tersebut adalah sebuah kejadian pada tanggal 15 Maret 1986 seluruh gedung Hotel New World di Singapura tiba-tiba runtuh ke tanah dalam waktu 1 menit dan menelan korban 33 jiwa. Setelah diselidiki ternyata perancang gedung hanya menghitung “beban hidup” seperti kendaraan, manusia, perabotan, angin, tekanan tanah, dan sebagainya. Sedang “beban mati” seperti rangka, dinding, lantai, atap, pipa, saluran air, peralatan listrik, dan sebagainya tidak diperhitungkan. Kesalahan perancang gedung dalam menghitung beban ini menyebabkan nyawa pengunjung melayang.
Bagaimana dengan Yesus yang malahan mengundang setiap orang untuk memikul kuk dan beban-Nya? Hanya saja Yesus memberikan jaminan yang melegakan: bahwa kuk dan beban-Nya itu ringan “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan." (Matius 11:28-30). “Beban-Ku” artinya segenap perintah-Nya. Adapun “kuk yang Kupasang” menunjuk pada ketundukan dan ketaatan kita. Dengan demikian, memikul kuk-Nya berarti tunduk dan taat pada segenap perintah-Nya.
Beban-Nya ringan karena kita tidak memikulnya seorang diri; Roh Kudus akan menyertai, menolong, dan memberi kita kekuatan untuk melakukannya “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya,” (Yohanes 14:16). Beban-Nya ringan karena tidak melebihi kekuatan dan kemampuan kita “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13). Beban-Nya ringan karena tidak akan melukai dan melumpuhkan kita, tetapi justru mendatangkan kelegaan dan ketenangan jiwa. Jadi, jalanilah hari-hari dengan ketundukan dan ketaatan pada pimpinan-Nya karena kita jugalah yang akan menikamati hasilnya. Bukannya mati tertimpa beban, kita malah akan dihidupkan karenanya!
“Kita juga punya perancang, hanya saja perancang kita tak pernah salah menghitung beban.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

KESEMPURNAAN YANG DICELA



“Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” (Wahyu 2:4)

Menilik hal-hal yang dilakukan oleh orang-orang Efesus, tidak salah jika mereka dipandang sebagai gereja yang sempurna! Jemaat ini sangat giat dalam pekerjaan Tuhan, tekun dalam iman kepada Kristus, gigih menghadapi rasul palsu dan ajaran sesat “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta.” (Wahyu 2:2). Jemaat ini tidak pernah bosan mengiring Tuhan “Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.” (Wahyu 2:3). Mereka pun membenci kejahatan “Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.” (Wahyu 2:6). Gambaran gereja yang sempurna, bukan?
Namun, mengapa Tuhan malah mencela mereka? Tuhan menyebutkan mereka bersalah karena telah meninggalkan kasih yang semu (nats diatas). Hal-hal luar biasa yang mereka lakukan itu menjebak mereka dalam kesombongan rohani sehingga mendinginkan kasih mereka kepada sesama dan Tuhan “Nenek moyang kami menyembah di atas gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem.” (Yohanes 4:20-21). Kesibukan dan kecintaan mereka pada hal-hal rohani justru mengikis cinta yang utama, yaitu kepada Tuhan dan sesama. Tuhan mengingatkan jemaat ini untuk bertobat dan kembali kepada kasih yang semula; jika tidak, Tuhan akan mengambil kaki dian (semua pelayanan) itu dari hidup mereka “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” (Wahyu 2:5).
Tuhan, Sang Empunya pelayanan (kaki dian), mempercayakan pelayanan kepada kita gereja-Nya, sebagai penyalur terang kasih dan berkat-Nya bagi sesama. Apalah artinya gereja yang begitu giat melakukan kegiatan rohani, punya banyak karunia, punya pengetahuan hebat tentang Alkitab, namun menolak untuk berbelas kasih kepada Saudara seiman dan orang yang tidak mengenal Tuhan? Mari indahkan peringatan-Nya dan kembali pada apa yang dikehendaki-Nya. Kiranya hidup kita senantiasa digerakkan oleh kasih yang semula.
“Sesempurna apa pun aktivitas rohani yang kita lakukan, jika kita tidak mengenal kasih sesama, Tuhan justru mencelanya.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

SINGKIRKAN PENGHALANG



“Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata.” (Amsal 31:10)

Berbahagialah para suami karena memiliki istri yang cakap dan bijak seperti yang dikatakan kitab Amsal hari ini. Kecakapan dan kebijakan hidup kita akan menghadirkan damai sejahtera dan berkat Tuhan di tengah-tengah keluarga kita. Sebaliknya, jika kita tidak bijak, tentu hal-hal terbaik itu tidak akan pernah terjadi dalam keluarga kita. Namun, ada beberapa perilaku yang harus disingkirkan dari hidup kita.
Pertama, tidak mengetahui identitas sebagai wanita di hadapan Tuhan. “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7). Jika seorang wanita tidak mengetahui identitasnya di hadapan Tuhan maka ia cenderung rendah diri (minder), suka membanding-bandikan diri dengan orang lain, menghakimi orang lain yang mempunyai kelebihan, dan juga tidak memiliki kepercayaan diri.
Kedua, berpusat pada hal-hal lahiriah. Wanita yang berpusat pada hal-hala lahiriah adalah sangat tergantung pada barang-barang yang bermerk dan gagal mengembangkan kecantikan batiniah. “Perhiasanmu janganlah secara lahiriah, yaitu dengan mengepang-ngepang rambut, memakai perhiasan emas atau dengan mengenakan pakaian yang indah-indah,  tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Sebab demikianlah caranya perempuan-perempuan kudus dahulu berdandan, yaitu perempuan-perempuan yang menaruh pengharapannya kepada Allah; mereka tunduk kepada suaminya,” (1 Petrus 3:3-5). Selain dari pada itu, wanita yang seperti ini sekua berbicara untuk menarik perhatian orang lain. “dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab: "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.” (1 Petrus 3:9-20).
Ketiga, hidup dalam kesia-siaan. Tanda dari seorang wanita yang hidup di dalam kesia-siaan adalah mereka cenderung tidak puas dengan apa pun, suka gosip dan cenderung mengasihi diri sendiri.
Saudaraku, apakah penghalang-penghalang ini menjadi perilaku yang ada dalam diri kita? Ingat, jika hari ini kita memutuskan untuk menjadi seorang istri yang bijak dan berkenan kepada Tuhan, maka kita akan menyingkirkan semua penghalang itu dari hidup kita.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

MENGATASI KETAKUTAN



“Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu; kepada Allah, yang firman-Nya kupuji, kepada Allah aku percaya, aku tidak takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?” (Mazmur 56:4-5)

Kecemasan atau khawatir, ketakutan, dan teror adalah respons neuro hormonal yang secara naluriah dianggap dapat melindungi kita dari rasa sakit, cedera, atau kematian. Rasa takut yang normal membantu membuat kita tetap hidup aman di dunia. Semua bayi, anak, dan orang dewasa memiliki spectrum local untuk kekhawatiran yang terbentuk dari perubahan-perubahan luar yang akhirnya menimbulkan ketakutan. Misalnya, tingkat emosional yang terlalu banyak rangsangan dan emosi yang intens pada orang lain atau dalam diri sendiri. Hal ini dapat bermanifestasi sebagai takut kehilangan kendali, konflik, kebingungan berkepanjangan, dan takut perasaan tertentu.
Semua perasaan di atas bisa dialami setiap orang, termasuk orang beriman yang taat beribadah. Contohnya Daud. Saat ia menjadi buronan Saul, ketakutan Daud pernah luar biasa hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyerahkan diri kepada orang Filistin agar lepas dari kejaran Saul “Tetapi Daud berpikir dalam hatinya: "Bagaimanapun juga pada suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul. Jadi tidak ada yang lebih baik bagiku selain meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin; maka tidak ada harapan bagi Saul untuk mencari aku lagi di seluruh daerah Israel dan aku akan terluput dari tangannya." (1 Samuel 27:1). Benar saja, Saul tak lagi mengejarnya. Namun, di Filistin Daud malah disukai sehingga dipulangkan ke tanahnya (1 Samuel 29). Tentu saja, pengalaman Daud ini karena campur tangan Tuhan. Dalam kondisi apa pun Daud selalu berserah dan mengandalkan Dia, Tuhan yang dipujinya dan firman-Nya dipercayainya.
Selalu berserah dan mengandalkan Tuhan adalah kunci kemenangan Daud atas segala ketakutan dalam hidupnya. Saudaraku, bila Anda pun ingin menang atas ketakutan-ketakutan yang Saudara rasakan saat ini, teladanilah Daud. Hari ini mungkin Saudara sedang takut akan apa yang akan terjadi esok, naikkan pujian, berserahlah di dalam doa dan ucapan syukur kepada Tuhan. Apa pun yang sudah kita serahkan, Tuhan pasti mendengar.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.