Halaman

Kamis, 02 Oktober 2014

TINGGAL DALAM FIRMAN



“Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." (Matius 13:23).

Sebagai utusan Tuhan tugas kita adalah memberitakan kabar baik dari sorga! Dapatkah jika kita sendiri tidak mengalami pertumbuhan rohani dengan baik? Adapun benih pertumbuhan rohani bagi orang percaya adalah firman Tuhan. Oleh karena itu kita harus menjadikan firman Tuhan sebagai makanan rohani kita setiap hari, sebab “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4). Tanpa benih firman yang tertanam tidak akan pernah pertumbuhan iman dan buah yang dihasilkan (pelipatgandaan) dalam kehidupan kita, sebab “…iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Jadi utusan Tuhan harus taat membaca, meneliti, merenungkan firman Tuhan.
Pemazmur mengatakan bahwa orang “…yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:2-3). Semakin kita menyukai firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam, kita akan semakin berakar di dalam firman-Nya; dan ketika kita berakar kuat di dalam firman-Nya seluruh aspek hidup kita akan semakin diarahkan, diatur dan dibentuk oleh firman. Inilah yang disebut tinggal di dalam firman Tuhan, di mana kita memiliki kepekaan rohani dan sedang berada dalam proses untuk menjadi serupa segambar dengan Kristus, “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yohanes 2:6).
Tinggal di dalam firman Tuhan berkenaan dengan ketaatan seseorang terhadap perintah Tuhan. Firman-Nya berkata “…hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:15-16). Jadi hidup dalam kebenaran dan kekudusan adalah syarat mutlak bagi seorang utusan Tuhan.
“Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” (Mazmur 119:97).
Untuk itu mari kita simak firman-Nya “Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,” (Mazmur 119:2).
Hidup benar dan kudus di tengah-tengah dunia yang jahat ini, bagi orang-orang di luar Tuhan, adalah perkara yang sangat mustahil. Bagaimana dengan orang percaya?
Kita pun tidak akan pernah bisa bila kita bersandar pada pengertian sendiri dan mengandalkan kekuatan sendiri. Namun kita tahu bahwa hidup benar dan kudus adalah kehendak Tuhan bagi orang percaya! Asal kita mau tunduk kepada pimpinan dan kehendak Tuhan sepenuhnya hal itu bukanlah perkara yang mustahil, karena di dalam kita ada kuasa yang bekerja dengan tak terbatas yaitu Roh Kudus, “…Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran;” (Yohanes 16:13). Jadi tidak alas an bagi orang percaya untuk tidak hidup dalam kebenaran dan kekudusan.
Tuhan mempunyai banyak cara untuk menyatakan kehendak-Nya dan salah satunya adalah melalui firman yang tertulis di dalam Alkitab ini. Bagian kita adalah membuka hati dan menerima firman Tuhan dengan lemah lembut seperti tanah yang gembur, supaya benih firman yang ditabur tertanam di hati lalu tumbuh dan menghasilkan buah seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Kunci untuk hidup benar dan kudus adalah tinggal di dalam firman-Nya, karena kuasa firmanlah yang dapat mengubah dan memperbaharui hidup kita dari hari ke sehari, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12.) “…Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” (2 Timotius 3:16). Itulah sebabnya kita harus mau dan siap untuk diajar, ditegur, diperbaiki, bahkan ditelanjangi oleh firman Tuhan, “…ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” (Yohanes 15:2).
Utusan Tuhan harus siap menerima “makanan keras” ini supaya pancainderanya kian terlatih “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” (Ibrani 5:14), bukti bahwa kita sudah dewasa rohani.
“Tanpa tinggal di dalam firman-Nya kita tidak akan mampu menjadi pelaku firman."
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

MENJADI CONTOH



“Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa, Yesus Kristus menunjukkan seluruh kesabaran-Nya. Dengan demikian aku menjadi contoh bagi mereka yang kemudian percaya kepada-Nya dan mendapat hidup yang kekal.” 
(1 Timotius 1:16)

Pernahkah Anda membuat pengakuan bahwa Anda orang paling jahat, berdosa, dan segala yang buruk yang melekat dalam diri Anda, serta menceritakan bahwa Anda punya masa lalu yang sangat kelam? Tentu tidak mudah menyampaikan pengakuan sedemikian terbuka.
Paulus menyatakan dirinya sebagai penghujat, penganiaya, dan ganas kepada pengikut Kristus “aku yang tadinya seorang penghujat dan seorang penganiaya dan seorang ganas, tetapi aku telah dikasihani-Nya, karena semuanya itu telah kulakukan tanpa pengetahuan yaitu di luar iman.” (1 Timotius 1:13). Ia menyebut dirinya orang yang paling berdosa “Tetapi justru karena itu aku dikasihani, agar dalam diriku ini, sebagai orang yang paling berdosa,…(1 Timotius 1:16). Sampai suatu ketika, dalam perjalanan ke Damsyik untuk memburu dan menganiaya para pengikut Kristus, Tuhan menjumpainya “Dalam perjalanannya ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: "Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?" Jawab Saulus: "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu. Tetapi bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat." Maka termangu-mangulah teman-temannya seperjalanan, karena mereka memang mendengar suara itu, tetapi tidak melihat seorang jugapun. Saulus bangun dan berdiri, lalu membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa;” (Kisah Para Rasul 9:3-8). Ia dibuat buta oleh cahaya kemulian Tuhan, dan akhirnya pulih setelah didoakan Ananias. Peristiwa itu menjadi titik balik dalam hidupnya. Seorang penganiaya yang penuh amarah terhadap jemaat berubah menjadi pemberita Injil yang sangat militan dan tidak setengah-tengah. Ini merupakan bentuk kasih Tuhan kepada Paulus, Allah menunjukkan seluruh kesabaran-Nya kepada Paulus. Bahkan, Tuhan melihatnya setia dan mempercayakan pelayanan besar dan mulia kepadanya “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku—“ (1 Timotius 1:12).
Kita pun orang berdosa. Namun demikian, Allah punya caranya yang unik bagi setiap pribadi untuk memperoses dan mengubah hidup kita. Ucapkanlah syukur untuk kesabaran Allah atas hidup kita dan mempercayakan pelayanan dan pekerjaan yang kita jalani saat ini. Berdoalah juga supaya pengalaman Anda bersama Tuhan ini menjadikan Anda teladan yang menolong orang lain mengalami penyertaan Tuhan yang mengubahkan hidup mereka.
“Tuhan menerima kita apa adanya. Tetapi Dia tidak membiarkan kita seadanya.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.


TIDAK AKAN DIPADAMKAN

“Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang.” (Matius 12:20)

Seseorang yang bernama Oscar Cervantes telah dipenjara sebanyak 17 kali dalam hidupnya karena melakukan berbagai kekerasan dan kejahatan. Para psikiater yang melayani para tawanan menyatakan bahwa kondisi Oscar sudah tidak tertolong lagi. Mereka memvonis bahwa Oscar selama hidupnya akan selalu berbuat kejahatan. Namun, ternyata mereka keliru. Ketika ia terbebas dari penjara ia bertemu dengan orang tua yang bersaksi tentang Yesus Kristus. Oscar memutuskan untuk beriman kepada Kristus, dan ia berubah menjadi orang yang lemah lembut. Ia mendalami firman Tuhan sampai bisa mengajarkannya kepada orang lain. Akhirnya ia merintis pelayanan penjara di Soledad, California, AS.
Pada mulanya, kala melihat Oscar Cevantes, kebanyakan orang berkata, “Dia tidak mungkin bertobat. Tidak ada harapan baginya untuk mengalami perubahan. Tidak usah didoakan, percuma saja.” Barangkali ketika jemaat mula-mula melihat kebengisan Saulus, mereka pun berpikir serupa. “orang brutal macam itu tak akan mungkin mengenal Tuhan. Pribadi yang haus darah seperti dia, mana bisa dipulihkan lagi.” Nyatanya, Tuhan tidak berpikir seperti itu. Dia malah melihat Saulus sebagai rasul yang penuh dengan kasih karunia. Pada akhirnya, Tuhan mengubah Saulus secara radikal.
Setiap kita melihat seseorang yang sudah layaknya buluh yang patah terkulai, mari jangan menyerah. Sumbu yang pudar nyalanya bukan berarti pasti mati. Orang yang penuh dengan kelemahan dan dosa, tidak menandakan bahwa ia tak mungkin berbalik arah. Teruslah berdoa bagi mereka, bahkan beri mereka kesempatan. Nantikan Tuhan mengubah kehidupannya.
“Allah tak pernah menyerah terhadap kita, karena Dia tahu kesempatan untuk berubah selalu ada.”
Amin.
Tuhan Yesus memberkati.

MENJADI UTUSAN TUHAN YANG HIDUP DALAM KETAATAN



“Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." 
(Yohanes 20:21b)

Sebagaimana Yesus berpesan kepada murid-murid-Nya ketika Ia menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya, pesan itu juga berlaku untuk semua orang percaya. Setiap kita yang telah diselamatkan dan mengalami lahir baru, “…..ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.” (2 Korintus 5:17), memiliki sebuah tanggung jawab besar, karena kita menyandang predikat sebagai utusan-utusan Kristus di tengah dunia ini, sama seperti tugas yang di emban oleh malaikat Gabriel, “…Akulah Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar baik ini…” (Lukas 1:19).
Menjadi utusan Kristus bukanlah hal yang sembarangan, apalagi di zaman akhir seperti sekarang ini, karena di mana pun berada dan kemanapun pergi kita mempertaruhkan nama Kristus. Oleh karena itu untuk menjadi utusan-utusan Tuhan kita harus benar-benar memenuhi criteria seperti yang Tuhan inginkan. Kita layak disebut sebagai utusan-Nya jika kita memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan seperti penilaian Tuhan terhadap Daud. “Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku.” (Kisah Para Rasul 13:22).
Seseorang dikatakan memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan apabila ia hidup dalam ketaatan. Ketaatan adalah syarat utama! Banyak orang berusaha untuk hidup taat dalam seluruh aspek kehidupannya, namun mereka seringkali menuai kegagalan. Mengapa? Karena ketaatan itu bisa diibaratkan seperti sebuah pohon: ada ranting, daun, batang dan juga buah, yang kesemuanya itu bersumber pada akar. Akar memiliki peranan yang sangat vital karena sebagai sumber yang membawa makanan ke seluruh bagian pohon. Begitu pula dengan ketaatan, harus dimulai dari akarnya. Artinya kita harus memulai ketaatan itu dari hal-hal yang paling mendasar, di mana hal ini akan menjadi “akar” bagi ketaatan-ketaan lainnya.
Jika kita taat dalam perkara yang paling mendasar ini kita pasti akan memiliki ketaatan pada seluruh aspek kehidupan kita.
“Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." (Lukas 17:10).
Sebagai seorang utusan kita harus tunduk dan taat kepada orang yang mengutus kita, seperti hamba yang tunduk sepenuhnya kepada tuannya. Ketaatan yang dimaksud adalah ketaatan yang benar-benar murni, tanpa disertai motivasi atau tendensi tertentu; dan apabila kita sudah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan Tuhan jangan pernah merasa bahwa kita ini sudah berjasa kepada Tuhan, sebaliknya kita harus bisa berkata, “Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan." Sebagai hamba, sesungguhnya kita tidak punya hak lagi atas diri kita sendiri.
Setelah “ditangkap” oleh Kristus dan dipilih menjadi utusan-Nya, rasul Paulus pun menjadi orang yang memiliki ketaatan secara mutlak, hidupnya sepenuhnya diperhambakan untuk Kristus. “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 2:20). Memiliki hati hamba adalah modal dasar yang haru dimiliki seorang utusan Tuhan. Jika seseorang sudah berhati hamba ia pasti akan melakukan tugasnya dengan penuh dedikasi di segala situasi. Adakah seorang tuan akan “…berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?” (Lukas 17:9). Tuhan tidak melihat seberapa hebat, pintar, tampan, cantik, gagah, atau kuatnya seseorang, “Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7b). yang Tuhan ingin dari kita adalah hati yang mau dan rela untuk dibentuk dan dipakai-Nya.
Saat kita hidup dalam ketaatan kita menjadikan Kristus sebagai raja atas kita, mempersilahkan Dia berdaulat dan memerintah penuh dalam segala aspek kehidupan kita. Tuhan Yesus sendiri tidak hanya mengutus kita, Ia juga telah memberikan teladan hidup dalam hal ketaatan. Melakukan kehendak Bapa adalah makan-Nya "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” (Yohanes 4:34). “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:8).
“Jika kita tidak taat, bagaimana kita bisa membawa kabar baik kepada orang lain?”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

ALASAN MENGUCAP SYUKUR



“Bagi-Mulah puji-pujian di Sion, ya Allah; dan kepada-Mulah orang membayar nazar.” 
(Mazmur 65:2)

Alasan pengucapan syukur bagi orang percaya bukan semata-mata berkenaan dengan perkara-perkara jasmani atau hal-hal lahiriah yang terlihat secara kasat mata, seperti; ketika sedang keberkatan, disembuhkan dari sakit, usaha lancar, keuangan tercukupi, studi berhasil atau karena doa-doa kita beroleh jawaban dari Tuhan.
Sesungguhnya ada beberapa alasan utama mengapa setiap orang percaya harus selalu mengucap syukur kepada Tuhan:
1.       Karena Tuhan mengampuni dosa-dosa kita.
Pemazmur berkata, “Bilamana pelanggaran-pelanggaran kami melebihi kekuatan kami, Engkaulah yang menghapuskannya.” (Mazmur 65:4). Melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib setiap kita yang percaya kepada-Nya beroleh pengampunan dosa dan diselamatkan. Firman Tuhan juga menyatakan “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18), bahkan, “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.” (Mazmur 103:12). Ucapan syukur seharusnya merupakan respons kita terhadap keselamatan yang telah kita terima sebagai anugerah dari Tuhan ini, sebab kita seharusnya mengalami kebinasaan kekal dan dimurkai oleh Allah karena dosa dan pelanggaran kita, namun kini beroleh anugerah pengampunan oleh karena karya Kudus Kristus di atas kayu salib. Inilah dasar utama orang percaya untuk mengucap syukur kepada Tuhan.
2.       Karena Tuhan selalu memperhatikan dan mendengar setiap seruan umat-Nya.
Dikatakan, “Engkau yang mendengarkan doa.” (Mazmur 65:3a). kita patut bersyukur karena kita memiliki Tuhan yang hidup, yang tidak pernah terlelap dan tertidur. Tuhan tahu persis sekecil apa pun pergumulan yang kita alami. Inilah janji-Nya, "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b).
Bahwa semua beban dan persoalan hidup ini kepada Tuhan melalui doa-doa kita, sebab Dia senantiasa menyendengkan telinganya untuk setiap seruan doa umat-Nya. Tidak berarti Tuhan akan selalu menjawab semua doa kita, tapi ada bagian yang harus kita kerjakan yaitu tetap bertekun dan menanti-nantikan Dia.
“mazmurkanlah kemuliaan nama-Nya, muliakanlah Dia dengan puji-pujian!” (Mazmur 66:2)
Ada banyak orang Kristen yang sulit sekali mengucap syukur kepada Tuhan, hanya karena kecewa doanya tidak dijawab atau belum beroleh jawaban dari Tuhan. Lalu kita melakukan aksi mogok dan marah kepada Tuhan. Maunya sekali berdoa, apa yang kita perlukan atau minta kepada Tuhan langsung dikabulkan. Kita memaksakan kehendak kita. Kita ingin Tuhan mengikuti agenda dan waktu kita dan tidak mau bersabar menunggu waktu-Nya, padahal “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya,” (Pengkhotbah 3:11). Alkitab mengingatkan agar kita senantiasa berdoa dengan tidak jemu-jemu, berdoa dengan tidak berkeputusan. “Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” (Lukas 18:7).
Ada alasan kita mengapa harus mengucap Syukur. Tuhan telah memilih kita dan menjadikan kita berharga di mata-Nya. “Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu!” (Mazmur 65:5a). kita dipilih Tuhan di antara sekian miliar manusia di muka bumi ini, artinya kita adalah orang-orang yang sangat special dan berharga di mata Tuhan,. “Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau,” (Yesaya 43:4). Jadi bukan kita yang memilih Tuhan, tapi Tuhan sendiri yang telah memilih kita. “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.” (Yohanes 15:16). Haleluya!
Kita pun patut bersyukur kepada Tuhan karena kebaikan-Nya melimpah atas kita. “Kiranya kami menjadi kenyang dengan segala yang baik di rumah-Mu, di bait-Mu yang kudus.” (Mazmur 65:5b). siapakah di antara kita yang tidak pernah merasakan kasih, kemurahan dan kebaikan Tuhan? Sungguh keterlalua jika kita melupakan kebaikan Tuhan. Jika demikian kita benar-benar tidak tahu berterima kasih. Ucapan syukur inilah yang akan memberikan kita kekuatan untuk terus memandang Tuhan dan melihat kebaikan-Nya “….janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (Mazmur 103:2).
“Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.” (Mazmur 136:1)
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

DENGAN MENGUCAP SYUKUR, KITA BERIBADAH DENGAN SUKACITA.



“Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!” (Mazmur 84:2)

Wujud lain dari seseorang yang senantiasa mengucap syukur adalah senantiasa beribadah kepada Tuhan dengan sukacita. “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mazmur 100:2).
Dari ayat ini Tuhan memberi perintah kepada kita untuk beribadah kepada-Nya dengan sukacita sekalipun dalam keadaan dukacita. Beribadah dengan sukacita tidak dikarenakan kondisi yang dialami dan juga bukan karena perasaan lagi enak, tetapi merupakan sebuah pilihan! Tidak sedikit orang Kristen yang datang beribadah karena terpaksa, lagi butuh Tuhan atau saat enak hati saja tanpa memiliki kerinduan mendalam kepada Tuhan; mereka lebih suka menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah yang ada dengan banyak alasan; sibuk, capai, kerja lembur, padahal kalau untuk urusan pribadi kita selalu memiliki waktu. Ada tertulis: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25). Ibadah merupakan anugerah dari Tuhan di mana kita dilayakkan untuk menghampiri tahkta kasih karunia dan kekudusan-Nya, karena itu kita harus beribadah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh dan penuh sukacita. Ibadah yang sejati adalah ibadah yang korban persembahannya ialah tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Tuhan “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1): jadi seluruh keberadaan hidup kita (tubuh, jiwa dan roh) harus terlibat dalam ibadah. Tetapi kita harus mengubah mulai sekarang setiap kita mau melangkah baik itu untuk ibadah maupun dalam kehidupan kita sehari dengan yang pertama dan utama adalah : roh, jiwa dan tubuh. Karena itu kita harus mempersiapkan korban persembahan hidup kita dengan sukacita.
Selama hari masih siang, artinya selama masih ada kesempatan, mari kita gunakan waktu-waktu yang ada untuk mengejar perkara-perkara rohani: beribadah kepada Tuhan dengan sukacita dan antusias, serta melayani Dia dengan roh yang menyala-nyala. Ingat, kesempatan belum tentu datang dua kali, sehingga daripada menyesal, pergunakanlah kesempatan dengan baik.
“…  ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:8), karena itu beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.