Halaman

Senin, 29 September 2014

DENGAN MENGUCAP SYUKUR, KITA BERIBADAH DENGAN SUKACITA.


“Betapa disenangi tempat kediaman-Mu, ya TUHAN semesta alam!” (Mazmur 84:2)
 
Wujud lain dari seseorang yang senantiasa mengucap syukur adalah senantiasa beribadah kepada Tuhan dengan sukacita. “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mazmur 100:2).
Dari ayat ini Tuhan memberi perintah kepada kita untuk beribadah kepada-Nya dengan sukacita sekalipun dalam keadaan dukacita. Beribadah dengan sukacita tidak dikarenakan kondisi yang dialami dan juga bukan karena perasaan lagi enak, tetapi merupakan sebuah pilihan! Tidak sedikit orang Kristen yang datang beribadah karena terpaksa, lagi butuh Tuhan atau saat enak hati saja tanpa memiliki kerinduan mendalam kepada Tuhan; mereka lebih suka menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah yang ada dengan banyak alasan; sibuk, capai, kerja lembur, padahal kalau untuk urusan pribadi kita selalu memiliki waktu. Ada tertulis: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.” (Ibrani 10:25). Ibadah merupakan anugerah dari Tuhan di mana kita dilayakkan untuk menghampiri tahkta kasih karunia dan kekudusan-Nya, karena itu kita harus beribadah kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh dan penuh sukacita. Ibadah yang sejati adalah ibadah yang korban persembahannya ialah tubuh kita sebagai persembahan yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Tuhan “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Roma 12:1): jadi seluruh keberadaan hidup kita (tubuh, jiwa dan roh) harus terlibat dalam ibadah. Tetapi kita harus mengubah mulai sekarang setiap kita mau melangkah baik itu untuk ibadah maupun dalam kehidupan kita sehari dengan yang pertama dan utama adalah : roh, jiwa dan tubuh. Karena itu kita harus mempersiapkan korban persembahan hidup kita dengan sukacita.
Selama hari masih siang, artinya selama masih ada kesempatan, mari kita gunakan waktu-waktu yang ada untuk mengejar perkara-perkara rohani: beribadah kepada Tuhan dengan sukacita dan antusias, serta melayani Dia dengan roh yang menyala-nyala. Ingat, kesempatan belum tentu datang dua kali, sehingga daripada menyesal, pergunakanlah kesempatan dengan baik.
“…  ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” (1 Timotius 4:8), karena itu beribadahlah kepada Tuhan dengan sukacita.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

3 KESUKSESAN YANG DICAPAI



MAZMUR 1 : 3
Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.


Bahan Renungan : "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga." (KISAH RASUL 1 : 11)
Apakah kita memiliki iman (percaya) bahwa jika kita hidup dalam Tuhan dengan Benar dan Kudus maka apa saja yang kita perbuat berhasil ? Atau masihkah dalam hidup ini kita mengalami banyak kegagalan daripada keberhasilan ? Mengapa kita gagal ? Sudahkah memeriksa diri sendiri ? memeriksa persekutuan kita dengan Tuhan ? Sudahkah kita alami Berkat dan Kesembuhan Rohani (Divine Healing & Blessing) ?
Ada 3 hal keberhasilan yang akan dicapai oleh orang percaya ! Yaitu bagi orang yang mengandalkan Tuhan dalam hidupNya, tidak melupakan firman KebenaranNya. Karena IA, Tuhan Yesus-lah yang membuat kita berhasil !

A. SUKSES ROHANI
"Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-benar telah mengecap kebaikan Tuhan." (I PETRUS 2 : 2 - 3)

• Sukses Pertama adalah SUKSES ROHANI ! Memiliki pertumbuhan rohani yang tidak setengah-setengah. Rohani sukses maka kita akan bisa mencapai sukses berikutnya.
• Apakah yang dimaksud Sukses Rohani ?
o Memiliki Persekutuan dengan Tuhan yang indah – "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25)
o Meninggalkan segala bentuk kejahatan dan dosa – "Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah." (I Petrus 2:1)
o Memiliki Buah Roh dan Buah Pertobatan – "kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri." (Galatia 5:22-23) ; "Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah." (Matius 3:8)
• Bagaimana kita bisa belajar meningkatkan kerohanian ?
o Belajar beribadah dengan kesungguhan hati baik di Gereja maupun di FA , tidak meremehkan ibadah, sopan dalam beribadah.
o Mengikuti KOM untuk menambahkan pengetahuan rohani.
o Melayani dengan giat dan tidak kendor.
"Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita." (2 Petrus 1 : 8) Giat & Kenal Yesus = Berhasil Rohani

B. SUKSES KARIR
"Kiranya diberikan-Nya kepadamu apa yang kaukehendaki dan dijadikan-Nya berhasil apa yang kaurancangkan." (MAZMUR 20 : 5)

• Ini adalah janji Tuhan pada kita. Apa saja yang kita perbuat/ kerjakan/ usahakan pasti berhasil. Rohani Sukses tidak akan melahirkan kemalasan, tetapi kerajinan yang akan membuat kita berhasil.
• Usaha Bisnis, Toko, Menjadi Karyawan, dll akan terus meningkat, karena kita dijadikanNya berhasil . Contoh : Yusuf "Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: "Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar. Jadi janganlah takut, aku akan menanggung makanmu dan makan anak-anakmu juga." Demikianlah ia menghiburkan mereka dan menenangkan hati mereka dengan perkataannya." (Kejadian 50:19-21)
• Kalau Karier kita berhasil ! Tetaplah terus meningkatkan kerohanian. Karena keberhasilan, seseorang bisa menjadi sombong, jatuh dalam pencobaan, meninggalkan ibadah. Contoh : Saul !
"Dengan hikmatmu dan pengertianmu engkau memperoleh kekayaan. Emas dan perak kaukumpulkan dalam perbendaharaanmu. Karena engkau sangat pandai berdagang engkau memperbanyak kekayaanmu, dan karena itu engkau jadi sombong." (Yehezkiel 28 : 4 – 5) Kesombongan Menghancurkan Karir.

C. SUKSES SOSIAL
"maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya." (AMSAL 3 : 10)

• Secara sosial kita menjadi sukses, ekonomi/ keuangan dipulihkan. Tidak lagi menjadi orang yang “miskin” . Karena kita sudah memulai hidup dengan baik, Sukses rohani dan Sukses karir (tidak malas bekerja , selalu berusaha dan tidak putus asa tetapi ada pengharapan pada Tuhan)
• Menabur dulu dari hasil karir yang sudah kita capai – "Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu," (Amsal 3:9)
Tidak andalkan manusia tetapi Tuhan – "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17 : 7)
Tidak kuatir masa depan – "Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang." (Amsal 23 : 18)
Kunci keberhasilan semuanya: Persekutuan yang indah dengan saudara seiman dan juga Tuhan - "Sungguh, alangkah baiknya dan indahnya, apabila saudara-saudara diam bersama dengan rukun! Seperti minyak yang baik di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya. Seperti embun gunung Hermon yang turun ke atas gunung-gunung Sion. Sebab ke sanalah TUHAN memerintahkan berkat, kehidupan untuk selama-lamanya." (Mazmur 133 : 1 – 3)
PENUTUP : JANGAN KITA MENUNDA UNTUK BERHASIL Segeralah kita mencapai kesuksesan itu bersama Tuhan. Karena Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dan kita juga jangan pernah meninggalkan Tuhan. Setialah pada Tuhan.
"Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga." (EFESUS 1 : 3)
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.



SIKAP MENTAL UNTUK BANGKIT



“kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka. Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.” (Kisah Para Rasul 16:25-26)

Sikap mental untuk bangkit adalah penting untuk kita bisa meraih kenyataan kuasa kebangkitan. Paulus adalah contoh orang yang memiliki sikap bangkit, karena mengenal Tuhan secara mendalam. Hal itu terlihat dalam Kisah Para Rasul 16:16-32; ketika dengan setia ia melayani pemberitaan Injil dan melakukan mujizat di Filipi. Paulus menengking roh tenung yang ada di dalam seorang anak perempuan. Namun akibatnya tuan dari perempuan tenung tadi marah dan menghasut banyak orang untuk menganiaya dan menjebloskan Paulus kedalam penjara setelah didera. Tetapi Paulus tidak patah semangat dan mengasihi diri sendiri. Dia tidak merenung untuk mengiba atas nasib malang yang menimpanya. Di penjara, sementara sebagian orang sudah tidur, Paulus malah menyanyi memuji Tuhan dengan suara keras. Mental bangkit seperti ini mengakibatkan kuasa kebangkitan terjadi. Gempa bumi local melanda penjara, dan pintu-pintu penjara terbuka, belenggupun patah. Yang terjadi kemudian adalah kepala penjara Filipi bertobat dan menerima Kristus, dan seisi rumahnyapun dilayani untuk mengalami keselamatan. Malaikat di sorga bersorak-sorai atas kemenangan ini.
Paulus menaklukkan keadaan dengan kuasa kebangkitan. Karena itu, untuk memiliki sikap mental bangkit; bangunlah gaya hidup berikut ini:
1.      Membangun pengenalan akan Allah secara pribadi yang mendalam. Dari keakraban, mengenal-Nya sebagai Bapa yang baik. Apapun yang kita alami, Bapa kita sangat baik bagiku. “Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orang yang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu, di hadapan manusia!” (Mazmur 31:20).
2.      Mengucap syukur senantiasa atas setiap situasi yang terjadi “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” (1 Tesalonika 5:18). Percaya bahwa semua keadaan yang menimpa kita ada dalam kendali Tuhan. Bukan peristiwa kebetulan, melainkan Tuhan punya niat baik di dalamnya.
3.      Atas situasi yang sedang terjadi, buatlah keputusan untuk tetap memuliakan Tuhan melalui keadaan ini. Reaksi awal kita bias takut, kuatir ataumarah atas keadaan, namun kemudian memilih untuk member respon positif. Memilih untuk menjadikannya sebagai kesempatan mempersembahkan kurban agar Tuhan disukakan. “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu; puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku. Karena TUHAN jiwaku bermegah; biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita. Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!” (Mazmur 34:2-4).
4.      Tidak tawar hati atau mencurigai Tuhan, melainkan tekun untuk melakukan bagian kita, terus bertekun berjalan di jalan-Nya. Targetnya, melewati ujian, muncul seperti emas murni. “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. Kakiku tetap mengikuti jejak-Nya, aku menuruti jalan-Nya dan tidak menyimpang. Perintah dari bibir-Nya tidak kulanggar, dalam sanubariku kusimpan ucapan mulut-Nya.” (Ayub 23:10-12).
5.      Tidak meragukan Tuhan dan mempertanyakan Tuhan, melainkan berpegang pada “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8:28) dan “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20). Meresponi Tuhan sebagai Allah yang berkuasa untuk membalikkan keadaan buruk menjadi kebaikan bagi kita.
6.      Bulat hati dan percaya, bahwa Dia telah memiliki dan menyediakan jalan keluar atas masalah yang kita hadapi. “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13)
7.      Kita mengenali dan menyadari identits kita adalah pemenang. Percaya bahwa Tuhan sudah mentargetkan kita untuk menang. “Tetapi syukur kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.” (1 Korintus 15:57), “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37).
Inilah anak tangga yang harus kita langkahi, satu demi satu, maka kuasa kebangkitan itu nyata kita alami atas setiap yang kita hadapi. “Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.” (1 Tesalonika 5:24).
Amin
Tuhan Yesus Memberkati.

KETIKA DOSA DIBIARKAN



“Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?" (Kejadian 3:9).

Ketika Tuhan mencari dan memanggil Adam dan Hawa yang terperosok dalam dosa, kira-kira apa tujuan Tuhan? Mengapa Dia memanggil mereka? Apakah Tuhan hendak menghukum mereka? Tidak!! Tuhan justru hendak menyelamatkan mereka, mari kita baca Firman-Nya
“Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia. (Yohanes 3:17),
“Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya.” (Yohanes 12:47),
“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya. Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian. Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus” (Efesus 1:3-9).
“bukan peminum, bukan pemarah melainkan peramah, pendamai, bukan hamba uang, seorang kepala keluarga yang baik, disegani dan dihormati oleh anak-anaknya. (1 Timotius 3:3-4).
Namun mengapa mereka takut, malu dan bersembunyi? Ketika hubungan mereka dengan Tuhan rusak, apa yang berubah? Tuhan tetap sama, Eden yang mereka diami tetap indah, tubuh mereka pun tetap sama. Dosa tidak membuat tubuh dan wajah mereka berubah jadi penuh kerut menyeramkan, atau rambut mereka jadi ribuan ular yang menjijikkan. Namun, ketika jatuh dalam dosa, manusia melarikan diri, tidak berani menghadapi dan menyelesaikannya. Artinya, ada satu hal penting yang berubah, yaitu hati mereka. Kini, hati mereka dipenuhi prasangka buruk. Sampai-sampai mereka curiga ketika Tuhan yang penuh kasih memanggil mereka. Di pikiran mereka, Tuhan hendak menghakimi dan menghukum. Mereka pun bersembunyi untuk menyelamatkan diri.
Ketika manusia terus berlari dari dosa dan tanggung jawab untuk membereskannya, manusia, justru kehilangan kebahagiaannya. Maka, janganlah berlari dari dosa dan berusaha dengan kemampuan sendiri untuk menyelesaikan masalah yang membelit hidup Anda. Sebaliknya, mendekatlah kepada Gembala Agung yang mencari Anda. Ketika Dia menemukan Anda sebagai domba yang terhilang, Dia pasti akan memeluk Anda, menggendong Anda, dan bersukacita bersama Anda.
“Panggilan Allah seharusnya bukan membangkitkan kegentaran, melainkan sukacita karena kemerdekaan dari dosa.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

BERHENTILAH SEJENAK



“Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu dari pada seribu hari di tempat lain…:” (mazmur 84:11)

Suatu kali Yesus mengutus kedua belas rasul untuk memberitakan kabar keselamatan pada orang banyak. Mereka juga di beri kuasa untuk mengusir setan dan meyembuhkan banyak orang sakit. Murid-murid pergi berdua-dua untuk mulai pelayanan mereka. Setelah selesai pelayanan, kembalilah mereka pada Yesus. Dengan antusias mereka menceritakan pengalaman mereka, apa saja yang sudah mereka kerjakan dan ajarkan. Mereka bersemangat karena ada banyak tanda ajaib di depan mata mereka. Sampai makanpun mereka tidak sempat.
Setelah mendengar cerita murid-murid-Nya, Yesus mengajak mereka untuk pergi ke tempat yang sunyi supaya mereka dapat sendirian saja bersama-Nya. “Lalu Ia berkata kepada mereka: "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahatlah seketika!" (Markus 6:31) Yesus ingin mereka berhenti sejenak dari segala rutinitas.
Saudaraku, tanpa sadar kadang kesibukan sehari-hari membuat kita lupa waktu, bahkan terkadang merasa kehabisan waktu. Kita harus membagi waktu untuk keluarga, kerja, pelayanan, hobi dan sebagainya. Kesibukan itu membuat kita merasa lelah. Kondisi tubuh mulai menurun, pikiran terasa berat, kita tidak punya waktu untuk bersekutu secara pribadi dengan Tuhan.
Bacaan kita hari ini mengingatkan bahwa sesibuk apapun kita, jangan sampai melewatkan waktu untuk berhenti sejenak berdua dengan-Nya. Berdoa, datang ke hadirat-Nya, lepaskan segala kepenatan kita agar kita disegarkan kembali.
Saudaraku, lelahkah kita dengan segala rutinitas ini? Berhentilah sejenak. Datang pada Tuhan. Hampiri Dia dalam doa, letakkan segala beban hidup di bawah kaki-Nya. Biarkan Tuhan menyegarkan kembali hidup kita, memperbarui batin dan pikiran kita, memberi kekuatan baru kita.
Saudaraku, mari kita mulai mengatakan “Aku mau masuk dalam hadirat-Mu, Tuhan. Dalam hadirat-Mu ada sukacita dan aku mendapat kekuatan baru.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati