Halaman

Rabu, 22 Oktober 2014

MASALAH BERAT SEPERTI TERLILIT TALI MAUT



“Tali-tali maut telah meliliti aku, dan kegentaran terhadap dunia orang mati menimpa aku, aku mengalami kesesakan dan kedukaan.” (Mazmur 116:3)

Kita masih membicarakan topic yang sama seperti kemarin yaitu, mengenai gambaran tentang seorang yang sedang berada dalam pergumulan berat karena beban dan masalah yang menimpa. Seperti inilah kondisi yang dialami Daud ketika hidupnya terus berada dalam ancaman dan marabahaya oleh karena Saul yang tak pernah berhenti mengejar dan hendak membunuhnya. “Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku.” (Mazmur 18:5-6). Dalam keadaan tertekan dan terhimpit tak ada yang bisa dilakukan Daud selain “….berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya.” (Mazmur 18:7).
Dalam keadaan demikian banyak orang memiliki kecenderungan untuk berputus asa, frustasi, stress, bahkan tidak sedikit yang kehilangan akal sehatnya sehingga tanpa berpikir panjang merekapun berbuat nekat dengan mengakhiri hidupnya. Ada pula yang berusaha lari dari masalah dengan menjerumuskan diri kepada hal-hal negatif: terlibat obat-obat terlarang, dugem, pergaulan bebas dan sebagainya. Tidak jarang juga mereka berani marah danmenyalahkan Tuhan atas segala sesuatu yang menimpa hidupnya, seperti yang diperbuat isteri Ayub. Ketika tidak tahan dengan penderitaan dan masalah yang datang secara bertubi-tubi menimpa keluarga dan suaminya, isteri Ayub berkata, "Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah!" (Ayub 2:9).
Inilah reaksi alamiah manusia pada umumnya! Secara manusia Ayub punya banyak alasan untuk mengeluh, kecewa, putus asa atau pun menyalahkan Tuhan walaupun Alkitab menyatakan bahwa Ayub adalah orang yang “….saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” (Ayub 1:1). Seluruh harta bendanya ludes, kesepuluh anaknya mati dan Ayub pun harus menderita sakit yang parah. “…dengan barah yang busuk dari telapak kakinya sampai ke batu kepalanya.” (Ayub 2:7). Saat tertimpa masalah berat manusia cenderung putus asa, menyalahkan Tuhan!
“Tuhan mengijinkan penderitaan melanda hidup Ayub untuk memperosesnya.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

MASALAH BERAT PASTI ADA HIKMAHNYA



“dan Kaudatangi setiap pagi, dan Kauuji setiap saat?” (Ayub 7:18)

Masalah adalah bagian dari kehidupan manusia di dunia ini. Musa pun mengakuinya, “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.” (Mazmur 90:10). Sekuat apa pun manusia dan secemerlang apa pun otak manusia takkan mampu menghindarkannya dari masalah. Tak seorang pun manusia yang masih bernafas yang akan terluput dari masalah dan pergumulan hidup meski dalam bentuk dan porsi yang berbeda-beda. Inilah nanti yang membedakan rspons dari tiap-tiap orang dalam menghadapi masalah tersebut.
Umumnya orang tidak suka dihadapkan pada masalah dan kesulitan. Kita maunya hanya menerima hal-hal yang baik saja dari Tuhan dan merasa keberatan bila harus mengalami hal-hal yang tidak baik menurut penilaian kita. Namun Ayub menegur keras isterinya, "Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?" Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.” (Ayub 10:2). sikapAyub dalam menghadapi masalah berat yang menimpa ini berbanding terbalik atau berbeda 180 derajat dari sikap isteri. Ayub tidak menunjukkan sikap putus asa dan menyerah pada keadaan. Inilah yang patut kita contoh supaya kita dihadapkan pada masalah kita tetap kuat dan tidak lagi mengucapkan perkataan yang negative, apalagi sampai menyalahkan Tuhan.
Apakah Saudara mengalami pergumulan seberat Ayub saat ini? Mari belajar menyerahkan seluruh pergumulan kita kepada Tuhan dan mohon kekuatan kepada Roh Kudus supaya kita diberi kesanggupan menanggung beban yang ada. Percayalah bahwa “…Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13b). dalam menyingkapi permasalahan hidup yang terjadi ingatlah janji firman-Nya: “janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.” (Yesaya 41:10).
“…bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.” (Roma 5:3-4).
Setiap masalah yang terjadi pasti ada sisi positifnya. Tidak ada masalah yang terlalu besar yang tidak dapat terselesaikan karena kita sendirian menghadapinya, ada Tuhan di pihak kita. "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b). kita harus berkeyakinan bahwa “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Oleh karena itu hadapilah setiap masalah dengan iman.
Melalui masalah, kita diajar untuk memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan. Acapkali  ketika segala sesuatu berjalan dengan baik dan lancar kita melupakan Tuhan, cenderung mengandalkan kekuatan sendiri, jam-jam doa kita abaikan, ibadah pun kita anggap sebagai kebiasaan dan rutinitas belaka. Firman-Nya mengingatkan,”….janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan;” (Amsal 3:5.7). masalah adalah sarana yang dipakai Tuhan untuk menarik kita semakin mendekat kepada-Nya, belajar berjalan bersama Dia dan melibatkan Dia di segala aspek kehidupan sehingga kita dapat membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan setiap saat. Akhirnya pemazmur pun mengakui, “Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu. Engkau baik dan berbuat baik; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Orang yang kurang ajar menodai aku dengan dusta, tetapi aku, dengan segenap hati aku akan memegang titah-titah-Mu. Hati mereka tebal seperti lemak, tetapi aku, Taurat-Mu ialah kesukaanku. Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” (Mazmur 119:67-71). Tuhan juga memakai masalah sebagai alat uji ketekunan dan kesabaran kita, karena biasanya saat masalah datang kita semakin ogah-ogahan mencari Tuhan dan berusaha mencari solusi sendiri di luar Tuhan. Bukannya makin bertekun mencari-Nya. Kita pun tidak sabar menunggu waktu Tuhan. Namun Yakobus menasehati, “….ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.” (Yakobus 1:3).
Bagi bangsa Israel, perjalanan mereka di padang gurun justru memberi mereka banyak kesempatan untuk melihat dan mengalami mujizat serta kuasa Tuhan.
“Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.” (Ibrani 10:36).
“Saudaraku, ketika kita saat diterpa masalah jangan sekali-kali kita menyalahkan Tuhan.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

TUHAN YESUS SAHABAT SEJATI KITA



“Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.” (Yohanes 15:15)

Suatu anugerah luar biasa yang diperoleh setiap orang percaya karena Yesus tidak lagi menyebut kita sebagai hamba, tapi “….menyebut kamu sahabat,” (ayat nats). Sahabat bukanlah sekedar hubungan biasa, melainkan terjalin hubungan sangat intim (karib) serta dilandasi oleh sebuah kepercayaan. Untuk menjadi orang yang bisa dipercaya oleh orang lain bukanlah hal yang mudah, terlebih-lebih yang memberi kepercayaan itu adalah Tuhan.
Bukti kepercayaan Tuhan adalah diberitahukan-Nya segala sesuatu yang didengar-Nya dari Bapa. Pemazmur juga menegaskan, “TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.” (Mazmur 25:14). Secara manusia sulit dipahami bahwa Tuhan mau dan menginginkan kita menjadi sahabat-Nya. Namun hal itu menunjukkan bahwa Tuhan sangat menginginkan kita makin mengenal-Nya secara dekat. Inilah hak istimewa dan terbesar bagi setiap orang percaya: dikenal, dikasihi dan dijadikan sahabat oleh Tuhan. Memiliki seorang sahabat berarti kita dapat berjalan seiring sejalan, saling menguatkan dan saling berbagi kasih yang tulus; dan hanya sahabat sejatilah yang mau tetap ada untuk kita di segala keadaan. Alangkah indahnya saat-saat kita mengetahui bahwa Tuhan Yesus sudah menyatakan diri-Nya sendiri sebagai sahabat sejati bagi orang percaya. Artinya segala hal yang baik dan istimewa yang tidak bisa kita dapatkan dari seorang sahabat di dunia ini bisa kita dapatkan jauh lebih dari apapun melalui kasih yang dinyatakan oleh Tuhan Yesus.
Bagaimana kita bisa layak disebut sebagai sahabat Tuhan Yesus? Kata-Nya, “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu.” (Yohanes 15:14). Melakukan perintah Tuhan adalah syarat utama untuk beroleh kepercayaan sebagai sahabat Tuhan Yesus. “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.” (Yohanes 15:12).
Apabila kita taat melakukan apa yang diperintahkan Tuhan yaitu saling mengasihi, maka kita memperoleh hak yang sangat istimewa yaitu menjadi sahabat Tuhan Yesus.
“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13).
Dalam firman-Nya dikatakan “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17). Yesus telah membuktikan kasih-Nya yang besar bagi kita melalui kematian-Nya di kayu salib. Dia rela mengorbankan nyawa-Nya menebus dosa-dosa kita. Kalau nyawa-Nya saja rela Dia serahkan, kita pun percaya apapun yang kita butuhkan dan perlukan pasti Tuhan sediakan bagi kita. “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19)
Karena Yesus telah menunjukkan kasih-Nya sedemikian rupa. Kita pun harus mengasihi Dia dengan sepenuh hati. Apabila kita mengasihi Tuhan selayaknya kasih seorang sahabat, maka kita akan berusaha untuk menjaga perasaan sahabat kita, serta berpikir seribu kali hendak menyakiti atau melukai perasaan-Nya. Namun kita justru menyakiti hati Tuhan dan mengecewakan Dia melalui tindakan dan perbuatan kita. Jangankan taat melakukan perintah-Nya, menyediakan waktu untuk bersekutu dan mendekat kepada-Nya saja jarang sekali kita lakukan. Kita berkutat dengan kesibukan diri sendiri dan mengabaikan kehadiran-Nya. Jika demikian layakkah kita disebut sahabat Tuhan? Padahal Tuhan sudah mengulurkan tangan-Nya untuk menjalin persahabatan dengan kita. Yakobus menasihati, “Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu.” (Yakobus 4:8a).
Tuhan Yesus adalah sahabat sejati orang percaya. Sahabat yang sejati rela berkorban, dan Yesus sudah membuktikan-Nya dengan memberikan nyawa-Nya untuk kita. Bukan hanya itu, Dia juga berjanji tidak akan meninggalkan kita dan akan terus menyertai kita sampai kesudahan zaman. Bahkan, disetiap perjalanan hidup yang kita tempuh Tuhan berjanji, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” (Yesaya 46:4).
“Tuhan Yesus adalah sahabat sejati kita; Dia rela mati untuk kita, menyertai, mengasihi dan menyediakan pertolongan pada waktu-Nya!”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati

Selasa, 14 Oktober 2014

PERSAHABATAN SEJATI DAUD DAN YONATAN



“Yonatan mengikat perjanjian dengan Daud, karena ia mengasihi dia seperti dirinya sendiri.” 
(1 Samuel 18:3)

Di dalam Alkitab kita akan menemukan sebuah persahabatan sejati yaitu persahabatan antara Daud dan Yonatan. Alkitab menyatakan “Ketika Daud habis berbicara dengan Saul, berpadulah jiwa Yonatan dengan jiwa Daud; dan Yonatan mengasihi dia seperti jiwanya sendiri.” (1 Samuel 18:1). Kata “berpadulah” artinya terjalin begitu erat dan kuat, tak terpisahkan. Kasih yang terjalin di antara keduanya melebihi kasih saudara kandung. Inilah kisah seorang sahabat sejati yang “….Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” (Amsal 17:17). Atas dasar kasih inilah Yonatan dan Daud mengikat perjanjian dan saling berkomitmen. Perjanjian adalah bukti kesatuan dalam hati dan jiwa.
Kasih seorang sahabat tidak melihat rupa, tingkat pendidikan, status atau pun pangkat. Yonatan, yang adalah putera raja Saul, tidak pernah merasa malu menjadikan Daud sebagai sahabatnya meski profesi Daud hanyalah seorang gembala. Perbedaan status bak langit dan bumi bukan jadi penghalang bagi keduanya untuk membangun sebuah persahabatan. Ketika Daud hendak terjun ke medan peperangan, Yonatan pun rela “….menanggalkan jubah yang dipakainya, dan memberikannya kepada Daud, juga baju perangnya, sampai pedangnya, panahnya dan ikat pinggangnya.” (1 Samuel 18:4), padahal jubah dan perlengkapan perang adalah lambing kehormatan dan kedudukan. Namun inilah bukti kasih dan kerendahan hati Yonatan. Bukan hanya itu, Yonatan juga rela mempertaruhkan nyawanya demi Daud “Lalu bangkitlah amarah Saul kepada Yonatan, katanya kepadanya: "Anak sundal yang kurang ajar! Bukankah aku tahu, bahwa engkau telah memilih pihak anak Isai dan itu noda bagi kau sendiri dan bagi perut ibumu? Sebab sesungguhnya selama anak Isai itu hidup di muka bumi, engkau dan kerajaanmu tidak akan kokoh. Dan sekarang suruhlah orang memanggil dan membawa dia kepadaku, sebab ia harus mati." Tetapi Yonatan menjawab Saul, ayahnya itu, katanya kepadanya: "Mengapa ia harus dibunuh? Apa yang dilakukannya?" Lalu Saul melemparkan tombaknya kepada Yonatan untuk membunuhnya. Maka tahulah Yonatan, bahwa ayahnya telah mengambil keputusan untuk membunuh Daud. Sebab itu Yonatan bangkit dan meninggalkan perjamuan itu dengan kemarahan yang bernyala-nyala. Pada hari yang kedua bulan baru itu ia tidak makan apa-apa, sebab ia bersusah hati karena Daud, sebab ayahnya telah menghina Daud.” (1 Samuel 20:30-34). Sahabat sejati pasti mau dan rela berkorban demi sahabatnya.
Setelah menduduki tahta Israel Daud tidak begitu saja melupakan janji dan komitmennya dengan Yonatan. Meski Yonatan telah tiada kasih Daud tak berubah, terbukti dari tindakan Daud yang bersedia merawat anak Yonatan yaitu Mefiboset, kata Daud, "Janganlah takut, sebab aku pasti akan menunjukkan kasihku kepadamu oleh karena Yonatan, ayahmu; aku akan mengembalikan kepadamu segala ladang Saul, nenekmu, dan engkau akan tetap makan sehidangan dengan aku." (2 Samuel 9:7).
“Persahabatan sejati; ada kasih, kesetian dan komitmen.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

BANGSA ISRAEL MENGINGINI HAL-HAL JAHAT



“Tetapi sesungguhnya demikian Allah tidak berkenan kepada bagian yang terbesar dari mereka, karena mereka ditewaskan di padang gurun.” (1 Korintus 10:5)

Sebelum mencapai Tanah Perjanjian bangsa Israel harus mampu menaklukkan musuh. Dengan kekuatan sendiri pastilah mereka tidak akan mampu menaklukkan musuh yang kuat itu. Keadaan akan berbeda jika mereka mau mengandalkan Tuhan, Dia akan turut campur tangan. “Tuhan akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja.” (Keluaran 14:14). Itulah yang menjadi dasar iman Kaleb dan Yosua, keduanya “….hidup karena percaya, bukan karena melihat.” (2 Korintus 5:7). Sesungguhnya yang menjadi musuh utama bangsa Israel adalah kedagingan mereka sendiri. Karena itu dibutuhkan iman dan ketaatan mutlak kepada Tuhan.
Hidup di Tanah Perjanjian inilah yang memungkinkan setiap orang percaya untuk hidup secara optimal. Namun jika diperhatikan, ternyata tidak semua umat Israel dapat mencapai dan menikmati Kanaan, “…karena mereka ditewaskan di padang gurun.” (ayat di atas). Banyak hal yang menyebabkan mereka tidak menikmati Kanaan atau janji Tuhan ini, di antaranya adalah “menginginkan hal-hal yang jahat” “….” (1 Korintus 10:6). Salah satunya adalah perbuatan yang dilakukan Akhan (baca Yosua 7).oleh karena mengingini jubah, emas dan perak, Akhan terperangkap dalam dosa “….aku mengingininya, maka kuambil;semuanya itu disembunyikan di dalam kemahku dalam tanah, dan perak itu di bawah sekali.” (Yosua 7:21). Apa yang diperbuat Akhan ini telah mencelakai umat Israel sehingga Israel terpukul kalah oleh musuh. Sebagai akibatnya Yosua menjatuhkan hukuman mati kepada Akhan dan keluarga beserta dengan seluruh isi rumah dan segala miliknya.
Rasul Paulus menginginkan jemaat di Korintus agar mereka tidak berlaku sama seperti bangsa Israel sewaktu di padang gurun. Peringatan ini juga berlaku atas kita! Janganlah kita melakukan hal-hal yang jahat seperti yang diperbuat bangsa Israel. Perbuatan jahat yang mereka lakukan akhirnya menjadi penghalang bagi mereka untuk menikmati berkat Tuhan, bahkan hal itu menyebabkan Tuhan murka atas mereka.
“Untuk dapat menikmati Kanaan kita harus bertekad untuk menjauhi kejahatan!
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.