Halaman

Kamis, 13 Agustus 2015

MARI BERIBADAH DENGAN SUKACITA

“Hai segala bangsa, bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak-sorai!” 
(Mazmur 47:2)


   Masih banyak orang Kristen yang beribadah kepada Tuhan secara asal-asalan tanpa disertai sikap hormat dan takut akan Tuhan. Hal itu bisa dilihat dari hal-hal yang simple: datang beribadah tidak tepat waktu (terlambat), masih suka bersenda gurau saat ibadah berlangsung, bahkan ada yang sambil ber-SMS ria atau memainkan Blackberry. Kalau kita menyadari akan kehadiran Tuhan kita tidak akan melakukan tindakan-tindakan tersebut. Ada pula yang beribadah dengan raut muka tetap cemberut dan tidak ada semangat sama sekali. Pemazmur mengingatkan, “Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mazmur 100:2). Firman di atas menyatakan: bertepuktanganlah, elu-elukanlah Allah dengan sorak sorai. Artinya kita juga harus beribadah kepada Tuhan dengan sukacita dan penuh semangat!
Mengapa kita harus beribadah kepada Tuhan dengan sukacita? Karena Tuhan telah menciptakan kita dan tujuan manusia diciptakan adalah untuk memuji, menyembah dan memuliakan Tuhan. Sudahkah kita menyembah Tuhan dan memuliakan nama-Nya dengan segenap hati dan jiwa sebagai perwujudan dari ibadah kita? Kita harus bersukacita oleh karena Tuhan Yesus telah menebus dosa-dosa kita dan menyelamatkan kita. Kita bersukacita karena menjadi umat pilihan-Nya. Kita bersukacita karena Tuhan adalah Gembala Agung dan kita adalah kawanan domba gemabalaan-Nya. Kita bersukacita karena “….TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (Mazmur 100:5). Kesadaran akan kasih karunia Tuhan yang begitu besar ini seharusnya mendorong kita untuk beribadah kepada-Nya dengan kasih.
   Orang yang beribadah karena mengasihi Tuhan pasti akan melakukan yang terbaik untuk Tuhan kapan pun dan di mana pun berada dan tidak mudah kecewa, sebab ibadah yang sesungguhnya berkaitan dengan seluruh hidup kita yang mengabdi secara total kepada Tuhan.
“Karena yang menjadi obyek utama ibadah adalah Tuhan, bukan pendeta atau manusia, maka kita akan beribadah kepada Tuhan dengan sukacita, bukan terpaksa!”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

SUKACITA YANG SEJATI

“Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” (Roma 14:17)


   Sukacita adalah faktor internal seseorang, maka tidak seharusnya ia dipengaruhi oleh factor-faktor atau hal-hal yang ada di luar. Kalau sukacita seseorang didasarkan oleh hal-hal yang dari luar, sukacita itu akan mudah berubah tergantung sikon. Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Tesalonika menasehati, “Bersukacitalah senantiasa.” (1 Tesalonika 5:16), artinya sukacita di segala keadaan tidak dipengaruhi oleh apa pun. Sukacita itu adalah sebuah keputusan. Kita bisa membuat sebuah keputusan untuk tetap bersukacita atau sebaliknya, tidak bisa bersukacita di segala keadaan.
   Firman di atas menyatakan bahwa Kerajaan Allah bukan berbicara soal makanan dan minuman (berkat jasmani); Kerajaan Allah itu bersifat rohani. Jadi kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita itu merupakan berkat rohani. Ketiga berkat rohani tersebut diberikan oleh Roh Kudus kepada setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus. Karena itu di dalam diri orang percaya seharusnya ada sukacita yang senantiasa terpancar dalam kehidupannya sehari-hari. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita! Mengapa? Dalam Lukas pasal 15 Tuhan Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah melalui perumpamaan-perumpamaan: domba yang hilang, dirham yang hilang dan juga anak yang hilang. Kita patut bersukacita karena kita sebelumnya adalah seperti domba yang sesat dan terhilang, tetapi sekarang telah dibawa kembali oleh gembala yang balik ke dalam kandang-Nya yang aman, kita sebelumnya seperti dirham yang telah hilang, tetapi sekarang telah di dapat kembali; kita sebelumnya seperti anak yang terhilang, yang hampir saja mati kelaparan, kini telah kembali ke rumah Bapa yang berlimpah dengan kasih setia. Kita patut bersukacita karena dosa-dosa kita telah diampuni-Nya. Sakit-penyakit kita disembuhkan-Nya dan kita yang dulunya berada dalam kegelapan kini telah dipindahkan ke dalam terang-Nya yang ajaib.
   Tuhan adalah sumber sukacita kita, sukacita yang mulia dan tak bisa dilukiskan dengan kata-kata, itulah yang menjadi kekuatan kita.
“Sesuram apa pun situasi yang ada di sekitar kita seharusnya tidak mempengaruhi suasana hati kita, karena sukacita kita bersumber pada Roh Kudus!”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

TUHAN ADALAH SUMBER KEHIDUPAN

“Sebab pada-Mu ada sumber hayat, di dalam terang-Mu kami melihat terang.” (Mazmur 36:10)


   Sepenuh hati mencari Tuhan berarti mencari-Nya secara konsisten sepanjang hidup. “Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya.” (1 Tawarikh 28:9b).
   Sesungguhnya kesempatan untuk mencari Tuhan itu selalu ada bagi semua orang, tapi tidak semua orang mau mempergunakan kesempatan itu dengan baik. Kita sering menyia-nyiakan dan membuang kesempatan itu. Tuhan selalu ada kapan pun dan di mana pun kita mencari Dia, tetapi kita sendiri yang mempunyai banyak dalih. Karena itu selagi hari masih siang, apalagi hari-hari ini adalah jahat, pergunakanlah waktu yang ada sebaik mungkin, sebab “….akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (Yohanes 9:4). Bagi orang percaya mencari Tuhan seharusnya menjadi gaya hidup sehari-hari, bukan sesuatu dipaksakan dan bukan pula sebatas seremonial atau upacara keagamaan. Mengapa kita harus mencari Tuhan setiap waktu? Karena di dalam Dia ada kehidupan. Tuhan berkata, "Carilah Aku, maka kamu akan hidup!” (Amos 5:4). Tanpa Tuhan kita tidak akan hidup, karena kita ini “…tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2:22), dan nafas kehidupan itu berasal dari Tuhan. “Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?” (Ayub 12:9-10).
   Adam, diberi nafas kehidupan oleh Tuhan dan ia pun hidup; tanpa nafas kehidupan yang diberikan Tuhan manusia tidak lebih segumpal tanah yang mati dan tidak berharga. Tertulis: “ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.” (Kejadian 2:7). Dan “Jikalau Ia menarik kembali Roh-Nya, dan mengembalikan nafas-Nya pada-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu.” (Ayub 34:14-15).
“Tuhan adalah sumber kehidupan bagi segala makhluk di bumi ini dan sebagai bukti bahwa Ia yang kita sembah adalah Tuhan yang hidup!”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

CARILAH TUHAN SELAGI DAPAT DITEMUI

“Carilah TUHAN dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!” (1 Tawarikh 16:11)


   Pada umumnya manusia lebih banyak dikuasai oleh pancainderanya sehingga apa yang kita lihat, kita rasa dan kita dengarlah yang lebih dominan mempengaruhi kehidupan kita, sehingga yang menjadi focus hidup kita pun adalah hal-hal yang lahiriah atau yang duniawi. Namun kita tahu bahwa semua yang ada di dunia ini adalah sementara alias fana. Alkitab tegas menyatakan bahwa jika kita terus bersahabat dengan dunia ini berarti kita memutuskan untuk menjadi musuh Allah “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” (Yakobus 4:4). Semakin kita focus kepada dunia semakin kita akan jauh dari Tuhan, bahkan keinginan untuk mengenal Tuhan juga semakin menipis. Maka itu “….carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, …..Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” (Kolose 3:1-2).
   Mencari Tuhan adalah sebuah kebutuhan, keharusan dan juga perintah bagi semua manusia. Selagi ada waktu dan kesempatan marilah kita mencari Tuhan dengan seluruh keberadaan hidup kita, bukan hanya sebatas formalitas atau lahiriah saja, melainkan harus melibatkan hati dan pikiran, sebab “sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita.” (1 Tawarikh 28:9). Jangan sampai kita hanya dating mendekat kepada Tuhan secara lahiriah sementara hati dan pikiran jauh dari Tuhan, seperti yang diperbuat oleh bangsa Israel “…. bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” (Yesaya 29:13). Ibadah yang demikian adalah kebencian Tuhan, "Aku membenci, Aku menghinakan perayaanmu dan Aku tidak senang kepada perkumpulan rayamu.” (Amos 5:21).
Biarlah teguran Tuhan ini menjadi peringatan keras bagi kita supaya kita tidak lagi bermain-main dengan ibadah kita. Tuhan menegur bukan berarti Dia kejam dan tidak mengasihi kita, justru menunjukkan bahwa Tuhan sangat mempedulikan kita. “… perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan,” (Amsal 6:23). Karena itu carilah Tuhan segera selagi Ia berkenan untuk kita temui.
“Berbahagialah orang yang mencari Tuhan dengan segenap hati.”
“Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,” (Mazmur 119:2).
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

“JIKA SAYA BERSAKSI KEPADA DUNIA”

“Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 10:32)

   Dalam acara penutupan kebaktian kebangunan rohani (KKR) yang diadakan oleh D.L. Moody di Negara Ukrania, seorang pemuda Norwegia berdiri dan menyatakan imannya kepada Tuhan. Ia ingin jemaat mengetahui bahwa ia kini telah diselamatkan, tetapi ia mengalami kesulitan untuk mengatakannya dalam bahasa Inggris. Dengan tersendat-sendat akhirnya ia berkata, “Saya berdiri di sini karena Yesus menghendaki saya bersaksi kepada dunia tentang Dia, maka Dia pun akan mengakui saya di hadapan Bapa!”
Moody lalu berkata, “Pengakuan anak muda ini menembus hati setiap orang yang hadir. Jika saya bersaksi kepada dunia!” tepat, itulah yang diartikan Alkitab ketika Dia berkata kita harus mengakui Kristus.”
   Tuhan tidak menghendaki kita menjadi saksi-saksi bisu. Dia menguatkan kita untuk berani bersaksi kepada orang lain atas anugerah-Nya. Alkitab menyediakan sarana bagi kita untuk dapat berkata-kata mengenai keyakinan kita di dalam Kristus. “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:9) dan di ayat selanjutnya pertanyaan “Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya?” (Roma 10:14).
   Jika Saudara mengasihi Allah, bersaksi kepada sesama adalah tugas Saudara. Mungkin yang perlu Saudara katakan kepada seseorang hanyalah pernyataan Saudara, bahwa “Yesus adalah segalanya bagiku. Saya harap Anda pun dapat mengenal-Nya!” dan Saudara akan terkejut mendapati bagaimana pengakuan yang sederhana dan terus terang itu berbuah. Ambillah keputusan sekarang juga untuk “bersaksi kepada dunia”.
“Jika iman kita di dalam Kristus berharga untuk dimiliki berarti Ia juga berharga untuk dibagikan kepada orang lain.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

MENJADI PENGIKUT SEPERTI PAULUS

“Jadilah pengikutku, sama seperti aku juga menjadi pengikut Kristus.” (1 Korintud 11:1)


China terkenal sebagai bangsa peniru. Menurut Ron Boyd, kepala kepolisian pelabuhan Los Angels, saat beroperasi, kesatuannya menemukan bahwa iPhone dan iPod buatan China meniru produk-produk Apple generasi terdahulu. Alasannya, iDevices tersebut sudah tidak menjadi perhatian public. Dari kasus ini, definisi barang tiruan adalah barang yang serupa dengan 1) barang yang sedang atau sudah marak di pasar tetapi merek berbeda, 2) merek disamarkan, 3) merek sama tetapi dari pabrik yang berbeda.
   Berbeda dengan kasus tersebut, menurut NKJV, nats yang sama “Imitate me, just as I also imitate Christ.” 1 Corinthians 11:1. “Tirulah aku, seperti aku juga meniru Kristus”. Paulus mengingatkan jemaat Korintus supaya tidak meniru kekeliruan orang Israel. Ketika bersungut-sungut, mereka dibinasakan Allah sendiri “ Di padang gurun ini bangkai-bangkaimu akan berhantaran, yakni semua orang di antara kamu yang dicatat, semua tanpa terkecuali yang berumur dua puluh tahun ke atas, karena kamu telah bersungut-sungut kepada-Ku.” (Bilangan 14:29) atau dipagut ular “Lalu mereka berkata-kata melawan Allah dan Musa: "Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir? Supaya kami mati di padang gurun ini? Sebab di sini tidak ada roti dan tidak ada air, dan akan makanan hambar ini kami telah muak." Lalu TUHAN menyuruh ular-ular tedung ke antara bangsa itu, yang memagut mereka, sehingga banyak dari orang Israel yang mati.” (Bilangan 21:5-6). Saran Paulus darpada bersungut-sungut, seharusnya memberi jalan keluar. Ketika berzina dan menyembah berhala, 24.000 orang tewas “Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab. Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu. Ketika Israel berpasangan dengan Baal-Peor, bangkitlah murka TUHAN terhadap Israel; lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Tangkaplah semua orang yang mengepalai bangsa itu dan gantunglah mereka di hadapan TUHAN di tempat terang, supaya murka TUHAN yang bernyala-nyala itu surut dari pada Israel." Lalu berkatalah Musa kepada hakim-hakim Israel: "Baiklah masing-masing kamu membunuh orang-orangnya yang telah berpasangan dengan Baal-Peor." Kebetulan datanglah salah seorang Israel membawa seorang perempuan Midian kepada sanak saudaranya dengan dilihat Musa dan segenap umat Israel yang sedang bertangis-tangisan di d(epan pintu Kemah Pertemuan. Ketika hal itu dilihat oleh Pinehas, anak Eleazar, anak imam Harun, bangunlah ia dari tengah-tengah umat itu dan mengambil sebuah tombak di tangannya, mengejar orang Israel itu sampai ke ruang tengah, dan menikam mereka berdua, yakni orang Israel dan perempuan itu, pada perutnya. Maka berhentilah tulah itu menimpa orang Israel. Orang yang mati karena tulah itu ada dua puluh empat ribu orang banyaknya.” (Bilangan 25:1-9). 
   Saran Paulus jauhilah dua hal itu. Dapat kita lihat saat Paulus melayani di Korintus, ia melakukan kedua hal itu.
Paulus telah menjadi model tiruan yang diperagakan) Kristus sehingga jemaat Korintus dapat belajar dengan cara meniru. Dengan kata lain, perilaku seseorang muncul karena proses modeling (peniruan). Modeling merupakan reproduksi perilaku dapat direproduksi kembali oleh mereka yang meniru. Jika peniru meniru perilaku yang positif, perilakunya pasti positif. Begitu pula, jika sebaliknya.
Hari ini, jadikanlah diri kita sebagai model Kristus dengan meniru sikap Paulus.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

MARI KERJAKAN KESELAMATANMU

“supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,” (Filipi 2:15)
   Pada era tahun 1970an, seorang pengusaha yang terkenal di Mesir bernama Farhat telah kehilangan sebuah jam tangan seharga 11.000 dolar (berkisar Rp. 100 jutaan). Setelah sekian lama di cari, akhirnya suatu ketika, datang seorang pemulung yang dekil mengembalikkan jam tangan tersebut. Farhat bertanya mengapa si pemulung tidak menyimpan atau menjualnya. Si pemulung menjawab, “Kristus, Tuhan saya, meminta kepada saya untuk selalu jujur.” Kepada para jurnalis, Farhat berkata, “Saat itu saya belum mengenal Kristus, tetapi saya berkata kepada si pemulung bahwa saya melihat Kristus dalam hidupnya. Dan, karena kesaksiannya ini, saya akan menyembah Kristus yang ia sembah.”
   Ketika seorang mengerjakan keselamatannya dengan hidup menurut kehendak Kristus, ia akan melakukan tindakan yang berbeda dari standar dunia – bahkan di atas rata-rata. Orang akan berkata, “Yang begini, belum pernah kita jumpai.” Kejujuran pemulung tadi bersinar di tengah gelapnya ketidakjujuran dan pementingan diri sendiri. Selanjutnya, setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan demi nama Kristus akan membuat orang dunia mendengar nama-Nya dan mengenal-Nya.
Paulus berpesan kepada jemaat di Filipi agar mengerjakan keselamatan mereka, baik ketika Paulus hadir maupun tidak. “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir,” (Filipi 2:12). Paulus sendiri menjadi teladan dalam mengikuti Kristus. “Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada korban dan ibadah imanmu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.” (Filipi 2:17). Mari kerjakan kerjakan keselamatan dengan hidup sebagaimana Kristus ingin kita hidup. Bukan lagi untuk mencari keselamatan, tetapi untuk mensyukuri dan mewartakan keselamatan itu. Dan, ketika itu dilakukan dengan sukacita, maka perbuatan kita pun akan seterang bintang!
“Setiap anak Tuhan adalah bintang. Kiranya bintang itu tidak padam, dan makin menyala terang.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.