Halaman

Senin, 06 Januari 2014

TAHUN BARU YANG BERBAHAGIA



“Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.” (Roma 10:13)

Walau Tahun Baru baru saja terlewati beberapa hari, tetapi di mana-mana orang masih banyak yang berkunjung dan berkumpul bersama untuk merayakan saat-saat awal yang cerah dari Tahun Baru.
Akan tetapi, bagi ribuan orang lainnya, hari-hari ini akan menjadi hari terberat dalam hidup mereka. Bagi orang-orang itu, hari ini hanya akan mengingatkan mereka pada kesepian dan kehilangan. Ini akan menandai permulaan dari suatu tahun kegagalan.
Bagaimana dengan Anda? Akan berbentuk apakah tahun ini bagi Anda? Anda mungkin tampak cukup berbahagia. Anda mungkin menyuguhkan senyum dan salam musiman seperti orang lain. Tetapi dalam hati, Anda mungkin menderita. Anda mungkin kecewa. Bahkan Anda mungkin merasa tak sanggup meneruskan hidup ini.
Jika demikian, ketahuilah bahwa itu semua dapat berubah dalam sekejap mata. Anda dapat memulai lagi hidup Anda hari ini dan menjadikan hari pertama Tahun Baru ini sebagai hari paling menggembirakan sepanjang hidup Anda!
Betapa seringkah Anda telah berkata, “Jika aku dapat memulainya lagi, aku akan melakukan semuanya secara berbeda?” Tidak usah berupa keinginan hampa belaka. Yesus Kristus sesungguhnya telah memungkinkan hal itu terjadi. Itu menjadi hadiah Natal-Nya bagi Anda. Dia telah membayar harga tunai untuk menebus semua dosa Anda. Dia telah menanggung hukuman bagi semua kesalahan Anda.
Itulah sebabnya Dia telah datang ke bumi. Untuk itulah Dia telah lahir, agar Anda dapat memulai lagi hidup ini!
Anda mungkin memandang hidup ini sambil berujar, “Tetapi aku telah melakukan kesalahan-kesalahan yang buruk sekali. Aku telah berbuat beberapa hal yang keji di tahun lalu.” Itu tidak menjadi soal. Yesus telah menebus semuanya!
Bagaimanakah Anda dapat melakukan suatu awal yang baru? Ada tertulis, “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan.” (Roma 10:9). Itu semudah berkata, “Yesus, aku menyerahkan hidupku kepada-Mu. Sejak hari ini aku adalah milik-Mu.”
Tiada waktu yang lebih baik untuk mengubahkan hidup Anda daripada hari pertama dari Tahun Baru. Tepat sekarang, di mana pun Anda berada, serahkan hidup Anda kepada Yesus. Lalu melompatlah sambil berseru, “Puji Tuhan, aku sedang memulainya lagi!” Dan ketahuilah sendiri makna sejati pengalaman Tahun Baru yang berbahagia!
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

KEHENDAK TUHAN ITU KEMERDEKAAN

“Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan.” 
(2 Korintus 3:17)

Kemerdekaan, jika Anda dapat menyebutkan kehendak Allah dengan sepatah kata, maka itulah “kemerdekaan”. Allah ingin manusia merdeka, merdeka dari dosa, sakit, kemiskinan, tindasan dan setiap kutuk lainnya.
Untuk memberikan kemerdekaan itulah Yesus datang, Dia bersabda, "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,” (Lukas 4:18-19). Untuk itulah Dia melatih para murid-Nya. Dan jika Anda seorang pemercaya yang lahir baru maka itulah juga yang Dia kehendaki untuk Anda lakukan!
Sebagian orang berkata, “Ah, saya tidak tahu tentang itu. Itu mungkin bukanlah kehendak Tuhan hari ini.”
Tetapi dengarlah, Alkitab menyatakan bahwa Tuhan tidak pernah berubah. Dia tidak mengubahkan kehendak-Nya untuk bumi ini. Dia tidak melakukan sesuatu untuk sesaat lalu melakukan hal lain pada saat lainnya. Kehidupan Yesus adalah gambaran sempurna dari kehendak Tuhan 2.000 tahun yang lalu dan juga sekarang ini! Itulah sebabnya Dia meninggalkan petunjuk agar kita pergi dan melakukan karya yang telah dilakukan-Nya dahulu. Karena itulah Dia mengutus Roh Kudus untuk memberi kuasa kepada kita agar melakukan hal-hal itu.
Yesus masih ingin melakukan kehendak Bapa di Bumi, tetapi Dia melakukannya melalui kita. Dia harus bekerja dengan kita sampai kita bersedia menyisihkan tradisi kitadan membiarkan Dia melakukan karya-Nya. Itulah yang dilakukan oleh Gereja pertama. Mereka mulai melakukannya secara mendadak karena mereka melakukan seperti yang diajarkan Yesus kepada mereka. Ke mana pun mereka pergi orang-orang  dimerdekakan.
Marilah kita berdoa bagi Gereja masa kini untuk menyampaikan kemerdekaan Tuhan kepada dunia. Berhentilah meragukan kehendak Tuhan dan mulailah melakukannya. Dia berkata bahwa pekerjaan yang dilakukan-Nya akan kita lakukan juga dan bahkan pekerjaan yang lebih besar. “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi kepada Bapa;” (Yohanes 14:12). Sudah waktunya bagi kita untuk meneruskan pekerjaan yang ditinggalkan Yesus, yaitu membebaskan orang-orang tawanan!”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati

IMAM BESAR YANG KITA AKUI



“Sebab itu, hai saudara-saudara yang kudus, yang mendapat bagian dalam panggilan sorgawi, pandanglah kepada Rasul dan Imam Besar yang kita akui, yaitu Yesus,” (Ibrani 3:1)

Hanya sedikit pemercaya kini memahami rahasia kerasulan dan keimaman Yesus. Kita menyangka bahwa seorang rasul adalah orang kudus yang sempurna. Tetapi “rasul” sebenarnya berarti “orang yang diutus”. Jadi, Yesus telah diutus Tuhan untuk melakukan sesuatu bagi kita.
Dia telah diutus untuk melayani sebagai Imam Besar kita. Juga banyak pemercaya tidak mengerti tugas seorang imam besar. Mereka menggambarkannya sebagai seorang yang berjalan keliling dalam busana aneh untuk melakukan upacara keagamaan.
Dalam kenyataan, seorang imam besar bertindak lebih daripada itu. Dia diberi wewenang untuk mengatur, melaksanakan, menerapkan dan mewujudkan. Anda mungkin ingin tahu dalam hal apakah Yesus diberi wewenang untuk mengatur, melaksanakan atau mewujudkan demi kepentingan Anda. Dalam Ibrani 3:1 menyatakan bahwa Yesus adalah Imam Besar yang kita akui. Dia telah diutus untuk memberlakukan, melaksanakan, mewujudkan kata-kata yang Anda ucapkan.
Tetapi hingga kini apakah Anda hanya mengucapkan perasaan Anda dan bukannya kata-kata iman? Jika, misalnya, Anda membicarakan sakit, apakah yang akan dilakukan-Nya dengan sakit itu? Dia bukan Imam Besar atas penyakit. Dia tidak dapat melaksanakan itu. Jika Anda berkata, “Aku sangat lemah, aku sangat letih.” Dia tidak dapat mewujudkan itu. Alkitab menyatakan, “Biarlah orang yang lemah berkata, aku kuat!” Pada saat Anda berkata begitu, Dia dapat memberikan KEKUATAN.
Yesus takkan memberikan penyakit atau kemiskinan atau dosa. Dia telah mengalahkan itu semua. Dialah Imam Besar mengenai pembebasan, kebenaran dan kemerdekaan.
Renungkanlah itu. Lalu pada saat Anda datang di hadapan Yesus, jangan mengucapkan kata-kata kekalahan. Ucapkanlah kata-kata yang dapat diwujudkan-Nya yaitu kata-kata kemenangan.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

MENJAGA HATI



“Kami telah mendengar tentang keangkuhan Moab, alangkah angkuhnya dia, tentang kesombongannya, keangkuhannya dan kecongkakannya, tentang tinggi hatinya.” (Yeremia 48:29)

Jika Anda membaca dalam kitab Yeremia 48, Anda menemukan mengapa Tuhan menjatuhkan hukuman kepada negeri Moab. Dalam ayat 29, Moab dihukum karena kesombongan mereka. Mereka biasa berbicara secara berlebihan. Apa yang mereka katakan belum tentu benar. Mereka sombong karena mengalami kehidupan yang aman. “Moab hidup aman dari sejak masa mudanya, dia hidup tenang seperti anggur di atas endapannya, tidak dituangkan dari tempayan yang satu ke tempayan yang lain, tidak pernah masuk ke dalam pembuangan; sebab itu rasanya tetap padanya, dan baunya tidak berubah.” (Yeremia 48:11). Kesombongan membuat mereka membesarkan diri terhadap Tuhan, “Buatlah dia mabuk, sebab dia membesarkan diri terhadap TUHAN! Moab akan berguling-guling dalam muntahnya, dan ia sendiripun akan menjadi tertawaan orang.” (Yeremia 48:26). Mereka menertawakan Israel yang dibuang ke Asyur. Mereka tidak meyadari, bahwa kesombongan mereka itu akan mengundang hukuman Tuhan. Kokohnya pertahanan mereka tidak akan bisa melepaskan mereka dari bahaya. Mereka juga ikut dibuang ke Babel.
Kekayaan, kebahagian, kekuasaan serta kesuksesan adalah sebagian dari hal-hal yang bisa membuat seseorang merasa dirinya mampu serta tidak memerlukan orang lain, bahkan merasa tidak memerlukan Tuhan. Kita harus hati-hati terhadap perasaan tersebut, perasaan yang berbahaya, karena Allah menentang orang-orang yang congkak, "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (1 Petrus 5:5).
Kita harus senantiasa mengingat, bahwa apapu yang kita miliki saat ini, semuanya merupakan pemberian Tuhan, sehingga kita tidak boleh berbangga diri. Kita harus mampu menjaga hati kita untuk selalu ada dalam kerendahan hati dan tahu berterima kasih untuk setiap anugerah yang Tuhan berikan atas hidup kita. Setiap kali mengalami kesuksesan, kita harus segera mengingat dua hal, yakni:
Pertama, “Jangan sampai kesuksesan kita capai membuat kita melupakan Allah yang telah memberi kesuksesan!” Ini yang sering dilupakan banyak orang. Kadangkala mereka beranggapan, bahwa karena sudah bekerja dengan sekuat tenaga dan pikiran untuk meraih keberhasilan atau kesuksesan, maka semua yang diraihnya itu adalah semata-mata karena kemampuan dan usaha serta kerja keras dari diri sendiri. padahal mereka lupa, bahwa sekalipun mereka bekerja sekuat tenaga, tetapi jika Tuhan tidak memberikan kekuatan atau jika Dia tidak mengijinkan-Nya, maka semua itu akan menjadi sia-sia.
Kedua, “Jangan sampai kesuksesan yang kita capai membuat kita memandang rendah orang lain!” Tiap-tiap orang memiliki porsi berkat yang berbeda-beda, dan semua berkat yang kita nikmati datangnya dari Tuhan. Oleh sebab itu, sangat disayangkan jika kita menjadi sombong dan memandang hina orang lain dengan kesuksesan yang kita peroleh. Ingatlah selalu, bahwa kesuksesan yang kita miliki seharusnya memacu kita untuk menjadi berkat bagi orang lain dan bukan sebaliknya!
“Kesombongan adalah pintu menuju kehancuran”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati

MENGERJAKAN KESELAMATAN MENUJU KE ARAH KRISTUS



“Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman” (2 Timotius 1:9)

Keselamatan memiliki arti dilepaskan atau dibebaskan dari hukuman, kutuk dan akibat-akibat dosa lainnya. Keselamatan ini tidak dapat kita raih dengan kekuatan sendiri, misalnya dengan berbuat baik, beramal dan sebagainya. Hanya ada satu cara untuk memperoleh keselamatan yaitu dengan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi. Namun proses keselamatan tidak hanya berhenti sampai di sini saja, atau sekali langsung selesai, tetapi harus dikerjakan terus-menerus di sepanjang hidup kita, karena keselamatan memiliki dua sisi yaitu sisi anugerah dan sisi ketaatan. “....karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir, karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.” (Filipi 2:12-13).
Adapun sasaran mengerjakan keselamatan ini adalah untuk menjadi serupa dengan Kristus, maka karakter kita pun harus berubah dan bertumbuh ke arah Dia, sebab, “Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yohanes 2:6). Saat kita mengalami kelahiran baru yang berubah adalah roh kita, tetapi karakter, pola berpikir, kebiasaan kita belum berubah. Maka Tuhan menghendaki kita menghasilkan buah sesuai dengan pertobatan kita, “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:8), di sinilah terjadi perubahan manusia lama ke manusia baru. Tuhan adalah Sang penjunan dan kita ini adalah tanah liatnya. Dia selalu punya cara untuk membentuk dan memurnikan kita.
Proses pembentukan Tuhan memang “sakit” karena di dalamnya terkadung: penyangkalan diri; pikul salib dan komitmen untuk mengikut Dia sampai akhir hidup kita.  "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Matius 16:24).
“Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara.” (Roma 8:29).
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati