Halaman

Minggu, 08 Desember 2013

HIDUP ADALAH UNTUK KRISTUS



“Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus--itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.” (Filipi 1:23-24)

Dalam hidup ini acapkali kita diperhadapkan dengan pilihan-pilhan yang sangat berat, baik dalam hal membuat keputusan, memilih pasangan hidup, memilih sekolah yang bagus, memilih pekerjaan yang sesuai, mengerjakan tugas pelayanan dan sebagainya. Terlebih-lebih jika kita diperhadapkan dengan dua pilihan yang sama beratnya dan sangat menentukan masa depan hidup kita. Rasul Paulus pun diperhadapkan dengan dua pilihan yang dilematis, namun bukan pilihan seperti buah simalakama, melainkan dua pilihan yang mengandung berkat luar biasa, yaitu “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” (Filipi 1:21).
Rasul Paulus menulis surat ini tidak sedang dalam keadaan baik dan menyenangkan, melainkan saat ia berada di penjara. Namun hal itu tidak membuatnya bersedih, kecewa dan putus pengharapan, justru rohnya makin menyala-nyala bagi Tuhan. Ia pun berprinsip jika Tuhan menghendakinya hidup lebih lama lagi di dunia berarti ada suatu kesempatan baginya memberi yang terbaik bagi Tuhan, melayani Dia dan memberitakan Injil lebih lagi. “....jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah.” (Filipi 1:22a). Jadi hidup yang dijalani Paulus bukan lagi hidup untuk diri sendiri, namun untuk Kristus sepenuhnya. Bagi Paulus Kristus adalah segala-galanya, melebihi apa pun yang ada di dunia ini. “.....apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya.” (Filipi 3:7-8a). Sebaliknya, andai pun penguasa Romawi harus menjatuhkan hukuman mati kepadanya bukanlah malapetaka bagi Paulus, justru ini adalah berkat yang luar biasa baginya, karena Paulus tahu benar bahwa setelah kematian ada kehidupan yang sesungguhnya. Ia tahu ke mana akan pergi dan di mana ia akan berada.
Jadi kematian bagi Paulus merupakan sebuah keuntungan yang besar, sebab ia akan segera bertemu Tuhan Yesus Kristus, Sang Juruselamat, di dalam Kerajaan Sorga dan memerintah bersama Dia.
“Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya,” (2 Korintus 5:10).
Rasul Paulus memiliki keyakinan kokoh akan Injil yang diberitakannya, “.....Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya,” (Roma 1:16).
Baginya kematian berarti meninggalkan semua penderitaan masalah dan kesesakan yang menjadi bagian hidup manusia di muka bumi ini. “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” (Roma 8:18). Jadi, “.....jika kemah tempat kediaman kita di bumi ini dibongkar, Allah telah menyediakan suatu tempat kediaman di sorga bagi kita, suatu tempat kediaman yang kekal, yang tidak dibuat oleh tangan manusia. Selama kita di dalam kemah ini, kita mengeluh, karena kita rindu mengenakan tempat kediaman sorgawi di atas tempat kediaman kita yang sekarang ini,” (2 Korintus 5:1-2). Namun ia pun merasa terbeban tinggal lebih lama di dunia ini. Bukan bertujuan menikmati hidup tapi bekerja bagi Kristus, melayani Dia dan menghasilkan buah pelayannanya. Inilah pilihan yang harus dihadapi Paulus yaitu antara melayani Kristus di dunia ini atau tinggal bersama Dia di sorga.
Bagi kebanyakan orang yang tidak mengerti akan panggilan hidupnya, hidup adalah untuk mengejar materi atau kekayaan, mengutamakan diri sendir, serta memuaskan keinginan daging. Akhirnya kematian bukan lagi sebagai keuntungan, tapi musibah dan malapetaka. Oleh karena itu manusia selalu ketakutan menghadapi kematian, bahkan menyebut dan membicarakannya saja mereka enggan. Namun bagi orang percaya yang merespons panggilan hidupnya sebagai kesempatan melayani Kristus, memberi buah bagi-Nya dan memuliakan-Nya melalui perkataan dan perbuatan, akan berkata bahwa mati adalah keuntungan.
Kita yang masih diberi hidup sampai detik ini sudahkah mengisi hari-hari dengan takut akan Tuhan dan mempersembahkan hidup bagi Dia? Marilah pergunakan setiap talenta dan karunia kita untuk melayani Tuhan dan menghasilkan buah sesuai pertobatan.
“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” (Yohanes 9:4).
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

Rabu, 04 Desember 2013

TIDAK 100%, TETAPI SEMPURNA



“Ada seorang laki-laki di tanah Us bernama Ayub; orang itu saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” (Ayub 1:1)

Ayub manusia biasa, pasti ada banyak kesalahan yang dilakukan olehnya karena ia masih hidup dalam daging. Dia tidak 100% bersih dari perbuatan dosa, namun ia sangat sempurna di mata Tuhan. Ayub saleh dan jujur; ia takut akan Allah dan menjauhi kejahatan. Saat ia khilaf dan tidak sengaja berbuat dosa, ia segera bertobat, minta ampun dan tidak akan pernah mengulanginya kembali karena ia tahu itu dosa.
Pernah suatu ketika seorang anak Tuhan bertanya, “Kitakan manusia, mana mungkin kita bisa 100% hidup Kudus.” Hidup Kudus bukan berarti 100% tidak pernah berbuat salah namun 100% menyadari kesalahannya dan 100% bertobat. Itulah hal yang di mata Tuhan 100% sempurna.
Saudaraku, Daud juga pernah melakukan pelanggaran besar dan ia tidak 100% Kudus karena ia masih hidup di dalam daging. Namun ketika ia menyadarinya, ia bertobat dan memperbaiki kesalahannya. Daud menjadi sempurna di mata Tuhan, karena itu dari keturunannyalah Juruselamat kita terlahir. Rasul Paulus dan Petrus juga pernah berbuat kesalahan dan pelanggaran, namun Tuhan menjadikan nama mereka besar karena kesadaran mereka untuk memperbaiki diri dan tidak hidup dalam daging, bukan berarti kita tidak bisa hidup kudus. Roh Tuhan ada dalam kita dan kita berkuasa atas daging kita. Kesadaran penuh kita akan dosa menjadikan kita sempurna karena kita menjauhinya dan tidak melakukannya.
“Kita sempurna di mata-Nya karena kita menyadari pelanggaran kita.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati

PENGHALANG KASIH KEPADA TUHAN



“Dan inilah kasih itu, yaitu bahwa kita harus hidup menurut perintah-Nya . Dan inilah perintah itu, yaitu bahwa kamu harus hidup di dalam kasih, sebagaimana telah kamu dengar dari mulanya. (2 Yohanes 1:6)

Apakah Saudara mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh? Kita pasti menjawab “ya”. Apakah buktinya? Kita aktif beribadah dan tidak pernah absen, bahkan sudah terlibat dalam pelayanan. Dapatkah itu dijadikan sebuah ukuran kasih seseorang kepada Tuhan? Ada tertulis “Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran. Tetapi barangsiapa menuruti firman-Nya, di dalam orang itu sungguh sudah sempurna kasih Allah; dengan itulah kita ketahui, bahwa kita ada di dalam Dia.” (1 Yohanes 2:4-5). Jadi, ketaatan adalah tanda utama bahwa seseorang mengasihi Tuhan.
Ada beberapa hal yang seringkali menjadi penghalang bagi seseorang untuk mengasihi Tuhan. Utamanya adalah dosa. Dosa adalah penghalang utama bagi seseorang untuk mengasihi Tuhan. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2). Sebelum dosa masuk dalam kehidupan manusia hubungan antara Tuhan dengan manusia sangat dekat dan tidak ada penghalang apa pun. Namun setelah manusia jatuh kedalam dosa mereka menjadi sangat malu, takut untuk bertemu Tuhan, bersembunyi dan akhirnya mereka pun terusir dari Taman Eden.
Selama kita hidup dalam dosa dan penggaran mustahil kita dapat mengasihi Tuhan dengan sungguh-sungguh. Ketidaktaatan kita adalah bukti nyata bahwa kita tidak mengasihi Tuhan. Untuk bisa mendekat kepada Tuhan dan mengasihi Dia tanpa halangan kita harus benar-benar bertobat. Banyak orang merasa diri benar dan sulit sekali mengakui dosa-dosanya. Alkitab menyatakan, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:8-9).dan ada tertulis di firman-Nya, “Kasihilah TUHAN, hai semua orang yang dikasihi-Nya! (Mazmur 31:24a).
Hal lain yang mengahalangi seseorang mengasihi Tuhan adalah kesombongan, menganggap diri sendir kuat, pintar, mampu, cantik, tampan, gagah dan sebagainya, sehingga kita merasa bahwa dengan kekuatan sendiri sanggup mengatasi segala sesuatunya. Kesombongan itu berakar dari segala sesuatu yang dapat dibanggakan dan diandalkan. Tidak seharusnya kita bersikap demikian! Mari menyadari bahwa kekuatan kita sangat terbatas. Sadarlah bahwa di luar Tuhan sesungguhnya kita tidak dapat berbuat apa-apa. Karena itu firman Tuhan dengan keras menyatakan, "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” (Yeremia 17:5), sebaliknya, “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!” (Yeremia 17:7). Siapakah kita ini? Nabi Yesaya mengingatkan bahwa keberadaan manusia itu “....tidak lebih dari pada embusan nafas, dan sebagai apakah ia dapat dianggap?” (Yesaya 2:22).
Selain itu harta kekayaan juga seringkali menggeser posisi Tuhan dalam hidup seseorang. Karena uang dan harta kekayaan yang dimiliki seseorang tidak lagi mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. Mereka lebih mencintai hartanya daripada mengasihi Tuhan. Sungguh benar apa yang dikatakan firman Tuhan, “Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” (Matius 6:21). Ketika hati seseorang melekat kepada uang dan harta kekayaannya, secara otomatis dia tidak lagi mengutamakan perkara-perkara rohani. Uang dan harta kekayaan menjadi andalannya. Mereka berpikir bahwa dengan memiliki uang dan harta kekayaan, mereka bisa mendapatkan segalanya dan memuaskan segala keinginannya. Bisa kita baca tentang kisah orang muda yang kaya di (Matius 19:16-26) dan juga orang kaya yang bodoh (Lukas 12:13-21).
Memiliki banyak uang dan harta melimpah bukanlah dosa selama berada di bawah kendali kita. Sebaliknya bila mamon tersebut mengesuai kita dan menjadi tuan atas kita, ia akan menjadi sebuah bencana bagi kita, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” (1 Timotius 6:10).
“Dosa, kesombongan, kekayaan memnghalangi orang mengasihi Tuhan sepenuhnya!”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati

BUTA ROHANI



“Adapun mata Israel telah kabur karena tuanya, jadi ia tidak dapat lagi melihat. Kemudian Yusuf mendekatkan mereka kepada ayahnya: dan mereka dicium serta didekap oleh ayahnya.” (Kejadian 48:10)

Sebelum menutup mata, Yakub yang telah buta sempat bertemu dan berkumpul lagi dengan Yusuf, anaknya yang hilang. Ia memberkati dua cucu dari anaknya itu. Yusuf menempatkan Manasye, anak sulungnya di sebelah kanan Yakub, sedangkan Efraim, anak bungsunya di sebelah kiri Yakub. Maksudnya, biarlah si sulung mendapatkan berkat yang lebih besar daripada adiknya. Tetapi, Yakub menyilangkan kedua tangannya sehingga Efraim-lah yang memperoleh berkat tangan kanan Yakub. Yusuf sudah memperingatkan ayahnya, tetapi Yakub melakukannya berdasarkan kehendak Tuhan.
Kondisi Yakub sama dengan Ishak, ayahnya, ketika memberkati dirinya dan Esau “Ketika Ishak sudah tua, dan matanya telah kabur, sehingga ia tidak dapat melihat lagi, dipanggilnyalah Esau, anak sulungnya, serta berkata kepadanya: "Anakku." Sahut Esau: "Ya, bapa." (Kejadian 27:1). Keduanya sama-sama sudah buta rabun. Bedanya, Ishak tidak peka dalam mengenali anaknya, sedangkan Yakub dapat membeda-bedakan cucunya “Ketika Yusuf melihat bahwa ayahnya meletakkan tangan kanannya di atas kepala Efraim, hal itu dipandangnya tidak baik; lalu dipegangnya tangan ayahnya untuk memindahkannya dari atas kepala Efraim ke atas kepala Manasye.” (Kejadian 48:17). Kebutaan mata tidak memburamkan nurani Yakub. Ia tahu Efraim yang akan mendapatkan berkat dari tangan kanannya. Ia pun memberkati menurut rencana dan kehendak Tuhan.
Orang percaya diberi mata rohani, kepekaan terhadap rencana dan kehendak Tuhan. Dalam persekutuan dengan-Nya, mata rohani kita akan terbuka, tahu membedakan mana yang berguna dan yang tidak berguna. Sayangnya, masih banyak orang percaya yang rabun secara rohani, tidak belajar untuk taat kepada firman Tuhan, sehingga tidak bisa melihat rencana Tuhan yang begitu indah bagi hidupnya. Mintalah Roh Kudus untuk melatih kita mengikuti kehendak Tuhan, menyelaraskan langkah hidup kita dengan pimpinan-Nya.
“mata rohani yang terang menjadikan kita mantab dalam mengikuti pimpinan Tuhan”.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

TANGGUNG JAWAB ALLAH



“Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis.” (Roma 14:14)

“Sesungguhnya, berbahagialah manusia yang ditegur Allah; sebab itu janganlah engkau menolak didikan Yang Mahakuasa.” (Ayub 5:17)
Sejak kecil, saya dan Anda pastinya mengalami didikan yang sangat keras dari orangtua kita. Bagaimana orangtua kita mengajarkan disiplin waktu, disiplin ilmu hingga ajaran yang keras bila kita salah dalam melakukan perbuatan. Dan saya percaya kita semua merasa sepertinya orangtua kita tidak menyukai kita. Saya sering mengeluh dengan didikan orangtua yang begitu keras, tetapi ternyata setelah saya merantau dan menjalani kehidupan berumah tangga saya menyadari bahwa apa yang kita alami selama dalam didikan orangtua kita dahulu adalah sangat bermanfaat agar membuat diri kita menjadi manusia yng penuh tanggung jawab terhadap kehidupan kita kelak.
Siapapun dan apa pun bentuknya, didikan itu tidak enak, daging kita akan sakit karena harus tunduk pada perintah dan aturan. Namun bila kita menolak didikan tersebut, hidup kita akan bisa berantakan. Begitu pula jika Anda menolak didikan Allah, yang sangat berguna bagi kehidupan jasmani maupun rohani kita. Selain itu bila kita menolak didikan Allah, kita tidak akan tahu kalau Allah itu sangat baik pada umat-Nya.
Inilah yang dirasakan Ayub ketika dicobai oleh iblis. Pada awalnya Ayub sakit sekali dengan percobaan tersebut, tetapi justru dari hal tersebut Ayub mengetahui dan mengerti bahwa Allah yang disembahnya sangat baik dan bertanggung jawab atas tindakan-Nya. Meski pedih jiwanya karena harus kehilangan anak-anaknya, ternaknya, harta benda dan kesendirian dia dalam menjalaninya, tetapi Ayub tetap setia pada Allah. Mengapa? Karena Ayub melihat bahwa Allah tetap memelihara, memberinya penghiburan, dan meyertainyadi dalam hari-hari percobaan itu. “Hidup dan kasih setia Kaukaruniakan kepadaku, dan pemeliharaan-Mu menjaga nyawaku.” (Ayub 10:12).
Saudaraku, jika kita kita ingin hidup kita membaik dan sukses, jangan menolak didikan Allah, baik berupa masalah maupun bukan. “Dengarkanlah didikan, maka kamu menjadi bijak; janganlah mengabaikannya.” (Amsal 8:33). Baik itu menyenangkan maupun menyedihkan. Mari kita jalani didikan itu dengan ketaatan kepada-Nya dan rendah hati. Anda akan merasakan manfaatnya dikemudian hari.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati