Halaman

Senin, 03 Maret 2014

MELAYANI TUHAN MENGEKANG LIDAH




“Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu.” (Yesaya 50:4a)

Yakobus dalam suratnya mengatakan, “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” (Yakobus 1:26). Sia-sialah melayani jika kita tidak bisa mengekang lidah atau menjaga ucapan. Orang lain akan menertawakan pelayanan kita jika kita tidak bisa menguasai diri dalam bertutur kata: bergosip, berkata jorok, mengumpat, dan lain-lain.
Menjadi pelayan Tuhan bukanlah pekerjaan mudah, karena selain perbuatan, ucapannya pun harus benar-benar bisa dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan juga manusia. Lidah pelayan seharusnya lidah yang sudah dikendalikan sehingga perkataan yang keluar tidak sembarangan. “Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.” (Kolose 4:6). Maka dari itu “Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit.” (Pengkotbah 5:1). Hati-hatilah dengan ucapan kita, sebab “Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:36-37). Jangan sampai karena ucapan kita orang lain kecewa, sakit hati, terluka, patah semangat, apalagi sampai mundur dan meninggalkan Tuhan.
Supaya lidah atau mulut berfungsi seperti yang Tuhan kehendaki kita harus senantiasa mempertajam pendengaran kita terhadap firman Tuhan, membaca dan merenungkan firman-Nya setiap hari dan bergaul karib dengan Roh Kudus melalui jam-jam doa. Dengan demikian pikiran kita dipenuhi perkara-perkara positif, dan secara otomatis yang keluar dari mulut kita juga positif. Inilah yang harus dilakukan oleh orang yang melayani: mengekang lidah!
“Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah;” (1 Petrus 4:11).
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati

MELAYANI TUHAN PENUH DENGAN KASIH DAN EMPATI



“setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;” (Yakobus 1:19)

Kehidupan orang yang berkomitmen melayani Tuhan adalah kehidupan orang yang harus memancarkan terang bagi sekelilingnya, seperti sebuah pelita yang diletakkan “....di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” (Matius 5:15). Jika tidak, ia hanya akan menjadi batu sandungan bagi orang lain.
Ada banyak orang yang mengeluh dan kecewa ketika melihat pelayan Tuhan yang dalam kehidupan sehari-harinya tidak menunjukkan sifat atau karakter Kristus. Bukankah hal ini sangat menyedihkan? Padahal Alkitab menegaskan, “Barangsiapa mengatakan bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.” (1 Yohanes 2:6). Di lingkup gereja mereka tampak begitu rohani dan berhati seperti Yesus, tapi begitu berada di tengah-tengah dunia ini ia sama sekali tidak peduli dengan orang lain dan sangat egois. Kasih mereka menjadi sangat dingin. Jika demikian, apa bedanya kita dengan orang-orang yang belum percaya? Padahal Tuhan Yesus telah telah memberikan teladan hidup yang luar biasa, Ia datang “....bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Markus 10:45).
Bagaimana kita bisa memenangkan jiwa bagi Kerajaan Allah jika kita sendiri tidak mengasihi jiwa-jiwa? Namanya pelayan Tuhan, berarti tugas kita adalah melayani seperti Tuhan Yesus melayani karena hati Yesus selalu dipenuhi belas kasihan dan empati terhadap orang lain. Namun kita seringkali dengan sengaja menghindar dan menjauhi orang lain atau memiliki kepedulian terhadap orang lain tidak harus berkorban secara materi. Salah satu wujud kasih kepada orang lain adalah kerelaan kita mendengar ungkapan hati mereka, belajar menjadi “good listener (pendengar yang baik)” untuk setiap keluh kesah mereka. Jadi permulaan kasih kepada sesama dimulai dari belajar mendengarkan; dan kemauan untuk mendengar adalah syarat utama yang dibutuhkan dengan muatan belas kasihan dan kesabaran. Dengan belajar mendengar ungkapan hati orang lain kita sedang mendisiplinkan diri untuk mendengarkan suara Tuhan.
“Bisakah kita disebut melayani Tuhan jika kita tidak punya kasih dan empati?”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

MELANJUTKAN MENUJU KEDEWASAAN



“Marilah kita tinggalkan.... beralih kepada perkembangannya yang penuh........” (Ibrani 6:1)

Secara rohani, sebagian kita belum dewasa. “sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan..... beralih kepada perkembangannya yang penuh.” (Ibrani 5:12; 6:1). Sama seperti ada tanda-tanda pertumbuhan jasmani, ada juga tanda-tanda kedewasaan rohani seperti yang yang tertulis "Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati,dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat. Sebab: "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya. Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat." (1 Petrus 3:8-12).

1.    1.   “Menjadi satu roh.”  Kesatuan tidaklah sama dengan keseragaman di mana semua orang harus berpikir serupa atau semua nya harus sepakat mengenal segalanya. Kesatuan adalah fokus pada hal-hal yang menyatukan kita, bukannya membiarkan masalah spele memecah kita.
2.    2.   “Bersimpati terhadap satu sam lain.” Pemahaman mengenai simpati adalah “ikut merasakan” orang lain. “Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis!” (Roma 12:15). Ketika Anda memperhatikan orang lain ketimbang diri sendiri, Anda mulai dewasa.
3.     3.  “Saling mengasihi.” Kita semua membutuhkan teman untuk mengasihi dan mendukung kita. Ada seorang mantan Presiden berkata “Bahwa salah satu harapan terbesarnya adalah memiliki delapan sahabat yang menghadiri pemakannya tanpa memeriksa jam tangannya!”
4.  4. “Berbelas kasihlah.”  Di zaman teknologi tinggi mudah sekali tidak memperhatikan mereka yang membutuhkan. “Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar....” (Matius 9:36). Orang yang terluka membuat hati-Nya tersentuh, dan mereka seharusnya juga menyentuh hati kita.
5.   5.  “Jadilah rendah hati.” Seorang pengajar Alkitab berkata “Carilah kesempatan untuk memberi...untuk membangun ketimbang menghancurkan, untuk melayani ketimbang dilayani, untuk belajar dari orang lain ketimbang berusaha untuk mendapat posisi pengajar.” Jadi, bagaimana keadaan Anda sejauh ini?
Petrus menulis “Janganlah membalas..... caci maki dengan caci maki,...” (1 Petrus 3:9). Ketika Anda diserang, bukannya membela diri dengan komentar yang merusak atau perkataan cerdas yang dirancang untuk menyudutkan orang, berdoalah “hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat.” (1 Petrus 3:9b). “ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat.” (1 Petrus 3:10). Sebagian orang tidak pernah memahami pelajaran ini. Ada sebuah kisah nyata yang tertulis di buku karangan terkenal dari luar yang isinya, “Pada masa Revolusi Perancis, raja dan ratu dipenggal, menjadikan anak raja yatim piatu. Ada pembicaraan untuk memenggal kepalanya juga sampai seseorang berkata, “Jika kamu membunuhnya, kamu mengirim rohnya ke surga. Sebaliknya, serahkan dia kepada pengemis nenek tua itu dan ia akan mengajarinya perkataan kotor dan sia-sia sehingga rohnya akan dikutuk selamanya!” Namun ketika mereka menyerahkan sang putra mahkota itu kepada wanita jalanan ini, yang mencobanya mengajari segala hal-hal cemar, ia menolak dan berkata, “Aku dilahirkan untuk menjadi raja dan aku tidak akan mengatakannya!” Intinya, ketika Anda adalah anak Raja, perkataan-perkataan Anda harus mencerminkannya. “Carilah kedamaian” (1 Petrus 3:11 AMP). Membutuhkan keberanian untuk menjadi pembawa damai. Di mana-mana Anda melihat orang marah terhadap perekonomian, layanan kesehatan, pengangguran dan masih banyak lagi. Menjadi pembawa kedamaian tidaklah sama dengan penjaga perdamaian. Petugas perdamaian mencari berbagai cara mempertahankan kedamaian dengan menjaga keseimbangan yang rapuh di antara kedua pihak. Pembawa kedamaian berjalan ke tengah konflik dan membantu mereka saling berdamai.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

FIRMAN ALLAH MEMILIKI JAWABANNYA



“firman-firman-Mu memberi terang,...........” (Mazmur 119:130)

Firman Allah memiliki jawaban yang Anda butuhkan, jadi Anda harus membacanya! Anda mungkin berkata, “Tapi saya tidak tahu harus memulainya dari mana?” Inilah beberapa ayat Kitab Suci yang Anda bisa dapatkan.
Ketika Anda khawatir “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” (1 Petrus 5:7), dan “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.” (Filipi 4:6) karena “Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah.” (Mazmur 62:6-7). Ingatlah selalu pada-Nya “Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya.” (Yesaya 26:3). Janji Tuhan adalah “ya dan amin “ serta “Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Ulangan 31:6). Ketika kita patah hati “Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;” (Mazmur 147:3). Tuhan selalu memberi penghiburan kepada kita “yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.” (2 Korintus 1:4), Allah takkan membiarkan kita karena “Allah yang abadi adalah tempat perlindunganmu, dan di bawahmu ada lengan-lengan yang kekal. Ia mengusir musuh dari depanmu dan berfirman: Punahkanlah!”.
Ketika Anda merasa bersalah “Dan di dalam Dialah setiap orang yang percaya memperoleh pembebasan dari segala dosa, yang tidak dapat kamu peroleh dari hukum Musa.” (Kisah Para Rasul 13:39), jadi “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9). Kini kita adalah orang yang berbahagia “sekarang diperdamaikan-Nya, di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Kolose 1:22), walau seberat apa pun dosa kita “...firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.” (Yesaya 1:18). Walau “...kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Roma 8:39). Ingat kita telah terbebas “....Akulah Dia yang menghapus dosa pemberontakanmu oleh karena Aku sendiri, dan Aku tidak mengingat-ingat dosamu.” (Yesaya 43:25).
Saudaraku, percayalah selalu akan firman-Nya! Maka mulai membuka lembaran-lemabar isi Alkitab Anda mulai sekarang seperti firman-Nya “tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.” (Mazmur 1:2-3). “Apa saja yang diperbuatnya berhasil” itulah janji Allah yang kekal.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati