Halaman

Senin, 01 Juli 2013

ORANG YANG RENDAH HATI MENERIMA ANUGERAH ALLAH




Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.(Habakuk 2:4)
Orang Kristen yang sungguh-sungguh rendah hati percaya, yakin, dan menaati firman Allah melampaui pemikiran, penalaran, perasaan, atau keinginan mereka sendiri. Mereka, dengan demikian, bergantung sepenuhnya pada kemampuan Allah, bukan pada kemampuan mereka sendiri. Mereka mencari kehendak-Nya, bukan kehendak pribadi atau orang lain.
Habakuk menggambarkan kesombongan dan iman sebagai hal yang berlawanan. Ayat ini dapat saja ditulis “sesungguhnya orang yang tidak rendah hati, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh imannya.” Begitu juga dengan kesombongan dan ketidakpercayaan. Tidak mempercayai Allah berarti menyatakan bahwa kita lebih berpengetahuan dari Dia dan kita lebih mempercayai penilaian kita sendiri daripada penilaian-Nya. Ketidakpercayaan itu tidak lain dari kesombongan yang tersamar.

TAKUT AKAN ALLAH


Apabila saya menyampaikan pendapat pribadi sebagai utusan Kristus sama saja tidak memiliki ketakutan yang ilahi, dan itu tidak lain adalah kesombongan. Rasul Paulus berkata “arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!(Roma 12:16). Kaleb dan Yosua tidak mengikuti pendapat orang-orang sezamannya; Allah sudah meyatakan kehendak-Nya dengan jelas. Mereka takut akan Allah dan, karena itu, menyelesaikan pertandingan dengan baik. Dinyatakan dalam kitab Amsal “ Apabila Ia menghadapi pencemooh, maka Iapun mencemooh, tetapi orang yang rendah hati dikasihani-Nya.(Amsal 3:34).
Tidak ada orang waras yang ingin dicemooh oleh Tuhan. Namun itulah sebenarnya yang terjadi pada orang yang merasa sudah cukup dengan mengandalkan kemampuannya sendiri. Tuhan yang mulia tidak memberi ruang bagi kesombongan. Dia membecinya. Pemazmur menulis, “Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya,(Mazmur 19:10). Takut akan Tuhan adalah kekuatan yang terus bertahan dan memampukan kita untuk menyelesaikan pertandingan dengan baik.
Amin.

RASA MALU, RASA BERSALAH, PENUDUHAN.




Pujilah (dengan segenap hati, dengan penuh syukur) TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan (satu pun dari) segala kebaikan-Nya! Dia yang mengampuni segala (Tiap-tiap) kesalahanmu, yang menyembuhkan segala penyakitmu,(Mazmur 103:2-3)
Allah itu jauh lebih layak dipercaya. Dia memerintahkan kita untuk tidak melupakan satupun dari segala kebaikan-Nya. Tidak satu pun. Dan kebaikan-Nya pertama adalah Dia sudah mengampuni tiap-tiap kesalahan Anda. Menakjubkan! Sungguh suatu kebaikan, rahmat, dan kasih yang luar biasa! Jika Anda belum melakukannya, ingatlah baik-baik hal ini sekarang: Anda sudah diampuni di dalam Kristus Yesus. Tidak ada dosa yang Anda lakukan yang tidak dihapuskan oleh darah-Nya yang tercurah. Maka, jika rasa malu, rasa bersalah, atau penuduhan muncul dalam jiwa Anda atas sesuatu yang Anda pikirkan, Anda katakan, atau Anda lakukan pada masa lalu Anda dan Anda sudah meminta pengampunan Allah, jelaslah bahwa bukan Allah yang berada di balik perasaan yang mengerikan itu.
Amin.

SADAR DAN BERJAGA-JAGA




“Demikian jugalah kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang yang tua. Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” (1Petrus 5:5-9)
Ini adalah anugerah yang benar-benar dari Allah. Anugerah itu bukan hanya untuk keselamatan dan pengampunan dosa kita, tetapi juga memampukan kita untuk bersinar di dunia yang gelap dan terhilang. Namun untuk menjadikan diri kita unggul, tak ayal kita akan menghadapi perlawanan; pasti ada perjuangan. Karena itu kita juga harus diperlengkapi dengan senjata anugerah.
Mempersenjatai diri kita dimulai dengan kerendahan hati karena anugerah diberikan kepada orang yang rendah hati. “mengenakan” kerendahan hati seperti pakaian, dan salah satu aspek penting dari kerendahan hati yang sejati adalah menyerahkan kekhawatiran kita kepada Dia, bukannya berusaha mengatasi tantangan hidup semata-mata dengan kemampuan kita sendiri. Kita tidak dapat berlari dalam perlombaan, berjuang secara efektif, dan bertahan sampai akhir jika kita dibebani oleh berbagai urusan pribadi. Kekhawatiran, kegelisahan, dan ketakutan adalah musuh bagi panggilan hidup kita. Menyerahkan beban tersebut kepada Allah memampukan kita untuk berlari dengan lebih cepat dan memegang kita dengan lebih kuat.
Dengan kata lain, kerendahan hati yang sejati memerdekakan kita untuk melangkah maju secara positif dan leluasa melawan arus sistem dunia ini. Kalau tidak, kita harus menyeret sauh melalui kubangan kecemasan-suatu upaya yang mustahil, masih ditambah lagi dengan adanya perlawanan dari arus sungai.
Amin.

Jumat, 21 Juni 2013

LATIHLAH IMAN ANDA MULAI SEKARANG


“ Ia mendidik kita supaya kita meninggalkan kefasikan dan keinginan-keinginan* duniawi dan supaya kita hidup bijaksana,#^& adil dan beribadah@ di dalam dunia sekarang ini” (Titus2:12)

 
Bila seorang atlet masuk ke dalam latihan, dia berlatih untuk meningkatkan keterampilannya. Dia bekerja keras, mengulangi gerakan yang sama berkali-kali sampai itu menjadi “bagian dari wataknya.”
Kita memahami betapa pentingnya latihan semacam itu dalam segi jasmani. Seseorang tidak dapat menjadi pemenang bila tidak menjalaninya. Tahukah Anda bahwa kita dapat melatih diri dengan cara yang sama dalam urusan rohani?
Memang benar seperti firman-Nya “Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat.” Ini jelas menyatakan kita dapat melatih panca indra kita untuk membedakan mana yang baik dan yang jahat. Bila Anda melatih dan memperaktikannya berulang-ulang sampai itu menjadi bagian dari watak Anda. Orang-orang yang malas telah berlatih menjadi malas. Orang yang berdisiplin telah berlatih untukberdisiplin.
Misalnya, Anda sulit bangun pagi untuk meluangkan waktu dengan Tuhan sebelum kesibukan dimulai, jika Anda telah mengalah pada daging Anda dan tinggal terus di ranjang, maka Anda harus mulai berlatih bangun lebih pagi . semakin lama Anda melatihnya semakin mudah hal itu dikuasai.
Jangan tawar hati bila Anda tersandung dan gagal. Kembalilah berdiri dan lakukanlah itu lagi. Jadilah seorang atlet rohani latihlah diri Anda dengan memperaktikan hal-hal Tuhan. Anda akan terkejut bila terus Anda berlatih, Anda akan menjadi pemenang.
Amin.

Karena dahulu kita juga hidup dalam kejahilan: tidak taat, sesat, menjadi hamba berbagai-bagai nafsu dan keinginan, hidup dalam kejahatan dan kedengkian, keji, saling membenci.(Titus 3:3)
# melainkan suka memberi tumpangan, suka akan yang baik, bijaksana, adil, saleh, dapat menguasai diri (Titus 1:8)
^ Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. (Titus 2:2)
& hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya, agar Firman Allah jangan dihujat orang. (Titus 2:5)
@ Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya,( 2 Timotius 3:12)

TANAMLAH BENIH, ITU AKAN TUMBUH


“Kata-Nya lagi: "Dengan apa hendak kita membandingkan# Kerajaan Allah itu, atau dengan perumpamaan manakah hendaknya kita menggambarkannya? Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi* yang ditaburkan di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dari pada segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya." (Markus 4:30-32)

 
Yesus membandingkan kinerja Kerajaan Allah dengan penanaman benih di tanah. “Apabila benih itu ditaburkan, “ Dia bersabda,” dia tumbuh...”
Perhatikanlah Dia tidak berkata bahwa benih itu kadang-kadang tumbuh. Atau benih itu tumbuh jika itu merupakan kehendak Tuhan. Dia berkata, “Dia tumbuh dan menjadi lebih besar. Ekonomi Tuhan tidaklah sama dengan ekonomi kita. Itu tidak memuncak pada satu hari lalu menurun pada hari berikutnya. Ekonomi-Nya selalu sama dan selalu bekerja dengan sempurna. Jika Anda mempunyai tanah yang baik, benih yang baik dan air yang baik, Anda akan mengalami pertumbuhan. Itu tidak terelakkan.
Apabila Anda menhadapi suatu masalah, janganlah panik...tanamlah benih!
Benih itu mungkin berbentuk uang atau waktu atau sumber daya lain yang harus Anda berikan. Tetapi, apapun bentuk yang diperlukan, pastikanlah bahwa Anda menaruh kehidupan di dalamnya dengan memberinya dalam iman dan mengelilinginya dengan puji-pujian dan penyembahan. Katakanlah. “Tuhan, pada saat aku membawa barang-barangku, aku membawa diriku sendiri. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu-roh, jiwa dan tubuh.”
Berdoalah untuk benih itu, penuhilah itu dengan iman, penyembahan dan firman. Lalu tanamlah itu. Anda dapat memastikan bahwa itu akan bertumbuh dan menjadi lebih besar!
Amin.

# Yesus membentangkan suatu perumpamaan lain lagi kepada mereka, kata-Nya: "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama orang yang menaburkan benih yang baik di ladangnya.(Matius 13:24)
* Ia seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di kebunnya; biji itu tumbuh dan menjadi pohon dan burung-burung di udara bersarang pada cabang-cabangnya." (Lukas 13:19)

BERSIKAP HORMAT KEPADA ALLAH




“Hai anakku,* jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian,*# ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian,@ dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam,^& maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.” %(Amsal 2:1-5)

Jalan hidup telah dijelaskan. Jika seseorang memberitahu Anda, bahwa ada 5 milliar tersembunyi di dalam rumah Anda, Anda akan mencarinyaterus sampai menemukan uang itu. Jika perlu, Anda akan membongkar keramik, membongkar dinding, dan bahkan menghancurkan rumah sampai ke dasarnya untuk dapat menemukan jumlah uang yang banyak itu. Betapa jauh lebih pentingnya kata-kata kehidupan itu!
Ketika kita mendapatkan inspirasi dari dunia, kita mengambil hikmat manusia dan petenung. Sikap hormat kepada Allah hanya diajarkan oleh perintah atau petunjuk manusia. Tanpa pengejaran pengenalan akan Allah, sama saja kita bermaksud baik kepada Allah tetapi menghina kemulian-Nya.
Penghakiman itu terjadi karena tidak menghormati dan menghargai kebesaran dan kemulian-Nya. Sesuai dengan tingkat kemulian yang dinyatakan, penghakiman akan segera dilakukan ketika kemulian yang dinyatakan, penghakiman akan segera dilakukan ketika kemulian Allah dihadapi dengan sikap tidak hormat dan tidak dihargai.
Amin. 
* Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu(Amsal 1:8)
* Pasanglah telingamu dan dengarkanlah amsal-amsal orang bijak, berilah perhatian kepada pengetahuanku. (Amsal 22:17)
# Arahkanlah perhatianmu kepada didikan, dan telingamu kepada kata-kata pengetahuan.(Amsal 23:12)
@ Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya.(Yakobus 1:5)
^ yang menantikan maut, yang tak kunjung tiba, yang mengejarnya lebih dari pada menggali harta terpendam;(Ayub 3:21)
& "Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh miliknya lalu membeli ladang itu. (Matius 13:44)
% Lakukanlah itu dengan setia, sebab itulah yang akan menjadi kebijaksanaanmu dan akal budimu di mata bangsa-bangsa yang pada waktu mendengar segala ketetapan ini akan berkata: Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.(Ulangan 4:6)