Halaman

Senin, 04 November 2013

TIDAK CEPAT TAPI TEPAT!



“Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku! Kiranya Roh-Mu yang baik itu menuntun aku di tanah yang rata!” (Mazmur 143:10)

Saudaraku, kita semua selalu dihadapkan dengan masalah-masalah yang terkadang kita tidak mengerti masalah tersebut mengapa harus terjadi. Pada saat hal itu terjadi, seharusnya kita mempertanyakan dalam diri kita sendiri, bagaimana sikap kita meresponi masalah tersebut? Pura-pura cuek alias tutup mata anggap saja tidak terjadi apa-apa, marah, menggerutu, atau berdiam diri dan tidak mau bertemu dengan orang lain alias sembunyi dari masalah?
Saudaraku, Daud yang dipilih oleh Tuhan langsung untuk menjadi raja atas bangsa Israel, dia bahkan harus menunggu bertahun-tahun untuk janji Tuhan dapat digenapi dalam hidupnya. Dalam penantiannya dia bahkan dibenci oleh musuhnya, bahkan dikejar-kejar sampai nyawa taruhannya, hari-harinya dilewati dengan perjuangan baik secara fisik maupun emosional jiwanya. Namun dalam kesesakannya, Daud selalu tahu kalau hanya Tuhanlah satu-satunya penolong bagi Daud saat itu, “Berbahagialah orang yang mempunyai Allah Yakub sebagai penolong, yang harapannya pada TUHAN, Allahnya: TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!” (Mazmur 146:5,10). Dari semua masalah yang terjadi dengan Daud, Daud meminta Tuhan untuk selalu mengajarinya melakukan kehendak Tuhan, karena Daud mengetahui kehendak Tuhanlah yang terbaik bagi dirinya. Hanya satu-satunya Tuhan yang dapat menolong dia dalam kesesakan.
Saudaraku, tetaplah menanti janji Tuhan, sekalipun menurut kita terlalu lama, tetapi pekerjaan Tuhan dalam hidup kita tidak cepat seperti apa yang kita pikirkan, tetapi tepat pada waktunya. Mintalah Tuhan, untuk mengajari kita melakukan kehendak-Nya, dan firman-Nya menuntun kita dalam berpikir, berkata-kata, dalam sikap terhadap diri sendiri dan sesama.
“Mendekatlah kepada Tuhan, maka Tuhan akan mendekat kepada kita!”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

BATAS PERGAULAN



“kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.” (1 Korintus 5:11)

Kita sering mendengar nasehat semacam ini: “Bergaullah dengan orang yang positif agar kualitas diri kita tumbuh semakin positif.”nasehat yang baik, namun kurang berimbang karena secara halus, mendorong kita untuk menjauhi orang yang negatif. Dengan kriteria itu, Yesus termasuk orang yang salah bergaul. Dia dijuluki sebagai sahabat orang berdosa, pelahap, dan pemabuk.
Perikop hari ini memuat larangan keras untuk bergaul dengan orang tertentu. Orang seperti apakah yang patut kita jauhi? Orang itu berbuat dosa yang tidak lazim dan lebih bobrok dari perbuatan orang berdosa pada umumnya, “bahwa ada percabulan di antara kamu, dan percabulan yang begitu rupa, seperti yang tidak terdapat sekalipun di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, yaitu bahwa ada orang yang hidup dengan isteri ayahnya.” (1 Korintus 5:1). Secara tersirat, orang itu bukan sedang bergumul melawan dosa, melainkan menikmatinya dan tidak malu memamerkannya, “Sekalipun demikian kamu sombong. Tidakkah lebih patut kamu berdukacita dan menjauhkan orang yang melakukan hal itu dari tengah-tengah kamu?” (1 Korintus 5:2). Dan, orang itu mengaku sebagai orang Kristen, padahal sejatinya ia tidak percaya pada Tuhan Yesus Krisrus “supaya kamu jangan bergaul dengan orang, yang sekalipun menyebut dirinya saudara, adalah orang cabul, kikir, penyembah berhala, pemfitnah, pemabuk atau penipu; dengan orang yang demikian janganlah kamu sekali-kali makan bersama-sama.” (1 Korintus 5:11). Adakah orang yang separah itu diantara kita?
Paulus juga menyatakan, kita hanya mendisiplinkan anggota jemaat “Sebab dengan wewenang apakah aku menghakimi mereka, yang berada di luar jemaat? Bukankah kamu hanya menghakimi mereka yang berada di dalam jemaat?” (1 Korintus 5:12). Pendisiplinan ini dilakukan atas kesepakatan jemaat, bukan karena sentimen pribadi “Bilamana kita berkumpul dalam roh, kamu bersama-sama dengan aku, dengan kuasa Yesus, Tuhan kita, orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.” (1 Korintus 5:4-5). Dan, yang tak kurang penting, tujuan akhir pengucilan ini bukan untuk membinasakan jiwanya, melainkan untuk menyelamatkan dan memulihkannya “orang itu harus kita serahkan dalam nama Tuhan Yesus kepada Iblis, sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan pada hari Tuhan.” (1 Korintus 5:5).
Dengan kriteria itu, tampaknya tidak banyak orang yang perlu kita jauhi. Secara umum, kita diarahkan untuk berdamai dengan semua orang “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18) dan mengasihi siapa saja. Terhadap musuh pun, kita diminta mendoakan dan memberkati “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44). Lalu, siapa yang tersisa untuk kita benci?
Fokus dalam pergaulan bukanlah mengucilkan orang tertentu, melainkan melayani dan mengasihi semua orang. Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

ADAKAH KRISTUS DI DALAM ANDA



“Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12b)

Ketika kami sedang makan siang di Mall, tiba-tiba ada keributan di depan restaurant tempat kami makan. Ternyata 1 orang di pukulin oleh 3 orang. Dan yang memukuli usianya sekitar 20an. Yang bikin kami merasa risih adalah anak muda yang menyuruh ke 3 cowok itu untuk memukuli korban memakai kalung salib dan di lehernya ada tato salib yang cukup mencolok dan sangat terlihat jelas. Mata kami semakin terbelalak hingga saya sampai keselek makanan saya saat pemuda tadi mengeluarkan kata-kata kotor mencacimaki si korban. Kata-kata yang tidak pantas diucapkan dan tidak layak untuk di dengar. Padahal masalahnya sepele saja, korban tidak sengaja menginjak kaki pacar si pemuda berkalung salib tadi, hanya karna tidak meminta maaf. Karna itu, si pemuda tadi memanggil 3 karyawan toko yang kebetulan bekerja di toko Mamanya yang bertepatan ada di Mall tersebut.
Saudaraku, kekristenan bukan hanya label bahwa kita percaya Tuhan Yesus. Percaya Yesus saja tidak cukup, untuk membuktikan iman kita dan keberadaan Yesus dalam hidup kita. Perkataan kita mesti benar dan memberkati. Setidaknya perkataan kita tidak menyakiti dan merugikan orang lain. Tingkah laku kita tidak seperti preman tapi menyenangkan, memberkati dam penuh kasih. Orang lain mungkin aja bikin kita jengkel karena berbuat jahat, tetapi kekristenan selalu bicara tentang pengampunan.
Saudaraku, apakah ada Kristus dalam diri Anda? Jika ya, maka perkataan dan tindakan Anda selalu mempermuliakan nama Yesus, tidak sekedar label saja. Selain itu, asesoris berbentuk salib dan tato salib tidak membuktikan apa pun tentang iman kita.
Buktikan bahwa Kristus ada di dalam diri Anda. 
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati. 

Minggu, 03 November 2013

KENAPA, TIDAK ADIL?!



“Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:26-27)

Absalom sedih sekali melihat Tamar adiknya itu sedang kesal dan pahit hati, karena tindakan ceroboh dari Amno, saudaranya. Tamar telah diperkosa oleh Amnon. Absalom begitu sangat mengasihi adiknya itu, sampai-sampai ia menamai anak perempuannya sendiri dengan nama yang sama dengan adiknya itu. Absalom berharap ayahnya (raja Daud) akan bertindak dengan menghukum Amnon! Tapi Daud tidak melakukan apa-apa. Absalom akhirnya bertindak sendiri dan menyuruh para pengikutnya untuk membunuh Amnon. Sesudah kejadian itu Absalom tetap saja menyimpan kemarahannya kepada Daud ayahnya itu.
Bertahun-tahun kemarahan itu disimpan oleh Absalom dan membusukkan hatinya sendiri. absalom akhirnya memberontak terhadap ayahnya sendiri.
Saudaraku, apa yang bisa kita petik pelajaran dari pengalaman hidup Absalom ini? Kemarahan itu bisa saja berasal dari perasaan tidak adil. Lalu apakah menuntut keadilan itu salah? Tidak, tentu itu tidak salah. Tetapi kemarahan yang terus saja disimpan, lama kelamaan akan dimanfaatkan oleh si jahat, dalam hal ini si iblis akan mengambil kesempatan. Iblis akan campur tangan dan membuat si pemarah tidak lagi berpikir sehat. Ia akan membuat si pemarah bertindak gegabah dan salah cara. Iblis tak permasalahkan kemarahan itu berasal dari mana, apakah dari perasaan diperlakukan tidak adil? Tidak masalah, yang terpenting dari situlah iblis bisa membawa seseorang bertindak melanggar firman Tuhan. Membenci, menyimpan sakit hati, dan akhirnya memberontak.
Saudaraku, apakah Anda sedang menyimpan kemarahan? Jangan beri kesempatan kepada iblis! Jangan pernah memberi kesempatan kepada iblis memperalat Anda. Berdoalah, katakan “Tuhan Yesus, aku mau mengampuni orang yang membuat aku marah, Tuhan. Aku mau memberkatinya Tuhan. Tuhan ku akui bahwa dagingku lemah, tapi biarlah roh-Mu yang membuat hati tetap mempunyai kasih dan pengampunan.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

TETAP BERSUKACITA



“Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!” (Filipi 4:4)

Ibu setengah baya itu amat ramah. Dengan wajah sumringah ia menyambut kedatangan saya di gereja kecil itu. Dan bukan hanya saya, setiap orang yang datang juga disambutnya dengan senyuman hangat. Nantinya saya tahu, suami ibu itu sudah meninggal. Untuk menghidupi dua anaknya yang masih sekolah, ia bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah wisma. “Tuhan telah memberikan napas kehidupan dan memelihara kami hingga saat ini dengan cara yang ajaib. Jadi, saya tidak punya alasan untuk bersusah hati karena Tuhan senantiasa memberi kami kekuatan. Selalu ada alasan untuk bersyukur kepada-Nya.” Kata ibu itu. Kondisi hidup yang sulit itu nyatanya tak menghapuskan sukacitanya.
Paulus secara tegas mendorong jemaat di Filipi untuk senantiasa bersukacita, dan ia bahkan mengulangi dorongannya itu. Jika Paulus menulis surat ini dalam kondisi yang baik-baik saja, kita tidak akan heran. Istimewanya, Paulus menulisnya ketika ia berada di dalam penjara karena memberitakan kebenaran firman Tuhan. Ia menunjukkan bahwa penjara sekalipun tidak dapat merampas sukacitanya di dalam Tuhan. Keadaan buruk tidak dapat merusak kesaksiannya akan kebaikan Tuhan.
Kita mungkin menanggung beban hidup yang amat berat. Namun, seburuk apa pun kondisi hidup ini, kita memiliki sumber pengharapan yang membangkitkan sukacita. Keadaan bisa jadi tidak bertambah mudah, namun sepanjang mata kita berharap kepada kebaikan Tuhan, hati kita akan diliputi sukacita dan di kuatkan untuk menghadapi situasi yang sulit tersebut.
“Sukacita yang sejati tidak akan padam sekalipun keadaan sekeliling begitu kejam.
Amin. 
Tuhan Yesus Memberkati