Halaman

Senin, 02 Desember 2013

ANDA “BERUBAH” MAKA ANDA “BERBUAH”



“Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberitakan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan tidak ada kecurangan pada-Nya.” (Mazmur 92:15-16)

Tuhan memanggil dan menyelematkan kita dengan tujuan supaya kita memiliki kehidupan yang berbeda dengan orang-orang dunia. Dengan demikian keberadaan kita berdampak dan menjadi kesaksian bagi kemuliaan nama-Nya.
 Kita dapat dikatakan “berbeda” bila ada perubahan hidup yang benar-benar nampak dan bisa dilihat oleh orang lain dengan ditandai buah-buah Roh. “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.” (Matius 3:8). Berubah dan berbuah merupakan kehendak Tuhan bagi setiap pemercaya. Inilah kehendak Tuhan itu, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Dan “Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8).
Mengapa setiap orang percaya harus berubah dan berbuah? Seorang Kristen dapat dikatakan berubah apabila karakternya juga berubah, “Ketika aku kanak-kanak, aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu.” (1 Korintus 13:11). Berubah berarti bergerak menuju ke arah Kristus dengan meninggalkan sifat kanak-kanak dan bertumbuh menjadi dewasa rohani. Bukankah masih banyak orang Kristen yang sudah bertahun-tahun mengikut Tuhan dan ditinjau dari sudut umur pun sudah dewasa (tua), namun mereka tetap saja memiliki kerohanian yang kerdil? “Sebab sekalipun kamu, ditinjau dari sudut waktu, sudah seharusnya menjadi pengajar, kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah, dan kamu masih memerlukan susu, bukan makanan keras. Sebab barangsiapa masih memerlukan susu ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil.” (Ibrani 5:12-13).
Jangan terus menjadi bayi atau kanak-kanak rohani! Jadilah orang Kristen yang makin hari makin dewasa. Perubahan karakter adalah salah satu tandanya.
“Sebab itu, saudara-saudaraku, kamu juga telah mati bagi hukum Taurat oleh tubuh Kristus, supaya kamu menjadi milik orang lain, yaitu milik Dia, yang telah dibangkitkan dari antara orang mati, agar kita berbuah bagi Allah.” (roma 7:4).
Buah merupakan indikator sebuah pohon sehat. Setiap pohon sehat pasti akan menghasilkan buah pada waktunya. Sebaliknya pohon yang tidak sehat sulit sekali untuk berbuah. Demikian pula orang percaya yang “sehat” rohaninya pasti menghasilkan buah-buah sesuai pertobatannya. Buah-buah yang dimaksudkan adalah buah-buah Roh, yaitu “....kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.” (Galatia 5:22-23a). Sedangkan di dalam diri orang Kristen yang “sakit” rohaninya mustahil ada buah-buah Roh.
Keberadaan kita ini diibaratkan sebuah ranting dan Tuhan Yesus adalah pokok anggurnya. Tuhan berkata, “Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah.” (Yohanes 15:2). Dikatakan bahwa ranting yang tidak berbuah akan dipotong-Nya dan kemudian dicampakkan ke dalam api dan dibakar. Itulah akhir dari pohon yang tidak menghasilkan buah. Demikian pula perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah; sudah tiga tahun lamanya si pemilik kebun tidak menemukan buah pada pohon aranya sehingga ia pun memerintahkan pengurus kebunya untuk menebang pohon itu dengan berkata, “Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma!” (baca Lukas 13:6-9).
Setiap orang percaya tidak bisa menghindarkan diri dari proses “berubah dan berbuah” ini. Mengapa demikian? Karena hidup yang berubah dan berbuah adalah syarat untuk mengalami penggenapan janji Tuhan dalam hidup kita. Kadangkala kita merasa bahwa janji Tuhan itu sangat jauh dari kehidupan kita; dan kita pun berpikir bahwa Tuhan itu ingkar akan janji-janji-Nya. Tidak sama sekali! Tak satu pun janji Tuhan yang tidak ditepati-Nya. Pada saat yang tepat pasti digenapi-Nya!
“sebelum Tuhan menggenapi janji-Nya, Ia terlebih dahulu memproses dan membentuk kita supaya kita benar-benar menjadi orang Kristen yang makin hari makin dewasa di dalam Dia, sehingga kehidupan kita pun menjadi kesaksian yang memuliakan nama-Nya.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati

PERINGATAN BAGI ORANG KAYA



“Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari  yang sedang berakhir.” (Yakobus 5:3)

Saudaraku, pernah Anda mendengar lagu “Bento” cintaan Iwan Fals? Lirik dalam lagu ini menggambarkan sosok pria bernama Bento dengan rumah real estate, mobil banyak, dan harta melimpah. Bos eksekutif dan tokoh papan atas. Iwan Falas menyanyikan lagu ini sebagai kritik sosial, karena tokoh kaya ini adalah bos yang jahat, koruptor dan meraih harta kekayaan dengan menyingkirkan rakyat miskin. Lagu ini adalah kritik terhadap penguasa yang korup dan tidak memperdulikan orang miskin, sebuah peringatan bagi pencari kekayaan yang menghalalkan segala cara.
Bila kita melihat kondisi keadaan bangsa Indonesia saat ini, sepertinya lagu Iwan Falas sangat relevan untuk melihat gambaran kenyataan yang terjadi akhir-akhir ini. Fenomena manusia yang tamak dengan harta kekayaan yang terjadi di negara kita yang tercinta sedang berlangsung dan sepertinya menjadi sebuah kenyataan yang tidak dapat terhindarkan. Dan lebih miris lagi bila kita melihat dari media  cetak maupun media elektronik, semakin banyak terjadi kasus penangkapan para koruptor di Indonesia. “Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang.” (2 Timotius 3:2), mereka menjadi manusia yang mengejar harta walau mereka sebenarnya taat beribadah, “Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka,...” (2 Timotius 3:5). Kenyataan ini sudah ada sejak zaman rasul Yakobus. Jemaat tempat Yakobus melayani kala itu telah terjadi kesenjangan antara orang yang sangat kaya dan orang yang sangat miskin. “Baiklah saudara yang berada dalam keadaan yang rendah bermegah karena kedudukannya yang tinggi, dan orang kaya karena kedudukannya yang rendah sebab ia akan lenyap seperti bunga rumput. Karena matahari terbit dengan panasnya yang terik dan melayukan rumput itu, sehingga gugurlah bunganya dan hilanglah semaraknya. Demikian jugalah halnya dengan orang kaya; di tengah-tengah segala usahanya ia akan lenyap.” (Yakobus 1:9-11) dan “...sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!", bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?” (Yakobus 2:1-4).
Kesenjangan itu menjadi sangat nampak karena orang kaya hanya menumpuk hartanya bagi dirinya sendiri. dan lebih parahnya lagi mereka menggunakan cara mereka dengan minidas para pekerjanya, “Sesungguhnya telah terdengar teriakan besar, karena upah yang kamu tahan dari buruh  yang telah menuai hasil ladangmu, dan telah sampai ke telinga Tuhan semesta alam keluhan   mereka yang menyabit panenmu.’ (Yakobus 5:4). Selain itu, mereka menggunakan harta mereka untuk hidup dalam kemewahan yang sia-sia, “Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi,....” (Yakobus 5:5). Dan terlebih lagi mereka mengahncurkan hidup orang benar “Kamu telah menghukum, bahkan membunuh  orang  yang benar.....” (Yakobus 5:6).
Saudaraku, Tuhan tidak melarang orang Kristen kaya. Namun, faktor yang mendukakan-Nya adalah ketika kita meraih kekayaan dengan cara yang salah dan tujuan yang salah. Maka, selagi kita masih hidup, marilah kita memperoleh kekayaan itu dengan tetap takut akan Tuhan dan jauhkan diri kita dari korupsi dan kesewenang-wenangan terhadap sesama.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

DARI KEKACAUAN MENUJU KEAJAIBAN.



“Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.” 
(Amsal 18:7)

Kita biasanya memperoleh hal yang kita ucapkan. Sebagai pemercaya, kita tahu betul bahwa itu merupakan kebenaran Alkitab. Kita dapat melihatnya dalam, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! asal tidak bimbang hatinya, tetapi percaya, bahwa apa yang dikatakannya itu akan terjadi, maka hal itu akan terjadi baginya.” (Markus 11:23), “Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu percaya dan tidak bimbang, kamu bukan saja akan dapat berbuat apa yang Kuperbuat dengan pohon ara itu, tetapi juga jikalau kamu berkata kepada gunung ini: Beranjaklah dan tercampaklah ke dalam laut! hal itu akan terjadi.” (Matius 21:21), dan “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal;barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.” (Yakobus 3:2) dan banyak ayat lainnya. Namun kita sering membiarkannya berlalu begitu saja.
Kita membiarkan diri kita berbicara seperti dunia ini, bukannya membicarakan Firman. Dan, akhirnya kita mendapatkan hal yang telah kita ucapkan kekacuan yang besar.
Jika itu terjadi atas diri Anda, ingatlah, apa pun yang Anda miliki dalam hidup Anda merupakan hasil dari kata-kata yang telah Anda ucapkan. Untuk mengubahkan hal yang Anda miliki, Anda harus mengubah apa pun yang keluar dari mulut Anda. Anda harus menguasai kata-kata Anda.
Itu jauh lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Tetapi itulah kuncinya: itu harus diucapkan agar dapat dilakukan! Bagaimana Anda memulainya?
Pertama, sadarlah bahwa itu tidak dapat dilakukan secara alami. Ini adalah sebuah hukum rohani, jadi harus ditangani dengan kuasa rohani.
“Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binantang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorang pun yang berkuasa menjinakkan lidah;ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.” (Yakobus 3:7-8) menyatakan bahwa lidah tidak dapat dijinakkan dengan kekuatan yang digunakan manusia untuk menjinakkan hewan. Dibutuhkan hikmat Tuhan dari surga untuk menanganinya. Firman Tuhan ialah hikmat-Nya, “Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian.” (Amsal 2:6). Dia juga berkata bahwa perkataan-Nya itu roh dan kehidupan. Itu berarti firman Tuhan dibutuhkan untuk menjinakkan lidah kita.
Kedua, bertobatlah sebelum Tuhan mengijinkan lidah Anda digunakan oleh seseorang selain oleh Roh Kudus. Kemudian serahkan lidah Anda kepada Yesus. Bertekadlah untuk mengucapkan kata-kata-Nya yang mengandung kasih, iman, sukacita, damai dan anugerah. Kata-kata iman menahan anak panah berapi dari neraka.
Tindakan ketiga ialah yang dikatakan Yesus "Camkanlah apa yang kamu dengar! Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu.” (Markus 4:24). Perhatikanlah apa yang Anda dengar. Dengarkanlah diri Anda sendiri! bepikirlah, apakah aku mau agar kata-kata yang baru kuucapkan itu terwujud? Jika jawabannya “tidak”, maka berhentilah dengan segera. Ganti kata-kata negatif itu dengan ucapan syukur, “Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono--karena hal-hal ini tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur.” (Efesus 5:4).
Jika Anda telah menjadi lemah dengan ucapan Anda, ubahkan sikap Anda dengan mengubahkan kata-kata Anda. Mohonlah kepada Tuhan untuk membantu Anda mengawasi mulut Anda, “Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!” (Mazmur 141:3). Usahakan agar kuasa yang ada di lidah Anda memihak Anda, bukannya menentang Anda. Berhentilah memakai lidah Anda untuk menimbulkan kekacauan dan mulailah memakainya untuk menghasilkan keajaiban. Ada mujizat di dalam mulut Anda!
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

JANGAN TERLALU KHAWATIR



“Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai.” (Lukas 12:22)

“Hari yang diisi dengan rasa khawatir akan jauh lebih berat daripada hari yang disibukkan dengan berbagai pekerjaan”. Kalimat yang menginpirasi itu muncul dalam status Facebook seseorang. Saya segera merespons dan berterima kasih kepadanya atas kalimat tersebut. Tuhan memakainya untuk mengingatkan saya agar tidak terlalu khawatir dalam menjalani hidup ini. Lebih baik menikmati hari yang Tuhan berikan dengan segala macam kejadian yang berlangsung di dalamnya, daripada khawatir sepanjang hari.
Ada tiga alasan mengapa kita tidak perlu khawatir.
Pertama, kekhawatiran adalah pelanggaran terhadap firman Tuhan. Bukankah Yesus tidak menghendaki kita untuk khawatir? Kedua, kekhawatiran menunjukkan sikap yang kurang percaya. Yesus menyamakan orang yang selalu mempersoalkan perkara kebutuhan sehari-hari dengan orang yang kurang percaya, “Jadi, jika rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api demikian didandani Allah, terlebih lagi kamu, hai orang yang kurang percaya! Jadi, janganlah kamu mempersoalkan apa yang akan kamu makan atau apa yang akan kamu minum dan janganlah cemas hatimu.” (Lukas 12:28-29). Bagaimana perasaan Bapa kita jika anak-Nya tidak percaya akan pemeliharaan-Nya?
Ketiga, kekhawatiran hanya akan menambah berat beban pikiran, dan buntutnya dapat mendatangkan penyakit dan depresi. Persoalan sehari cukup sehari, hari esok ada kesusahannya sendiri, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:34). Lagi pula kita memang tidak dapat mengontrol apa yang terjadi pada masa depan.
Jadi bagaimana sekarang? Masihkah kita membiarkan kekhawatiran menguasai hidup kita? Berhentilah khawatir, belajarlah menikmati hari yang Tuhan berikan, dan percayalah pada pemeliharaan-Nya. Bapa mengenal kita dan mengerti yang terbaik bagi kesejahteraan kita.
“Jika kekhawatiran lebih melelahkan daripada bekerja, mengapa kita masih khawatir?
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

NEVER GIVE UP



“Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;” (2 Korintus 4:8)

Ketika seorang yang bernama Marco (bukan nama asli) ingin sekali masuk dalam tim sepakbola nasional. Tetapi untuk masuk tim provinsi saja dia susah sekali. Dia berusaha masuk tim klub lokal untuk mengikuti kompetisi lokal, dan itu pun ia hanya sebagai pemain cadangan. Pernah suatu ketika ia dipercayakan sebagai kapten tim melawan klub lain, ternyata timnya kalah. Hal tersebut membuat Marco menjadi down. Tetapi keinginannya untuk menjadi pemain nasional yang sangat besar, maka Marco tidak mau berlama-lama bersedih. Ia mengikuti kompetisi dengan beberapa klub lokal. Dan ketika ia di lirik oleh klub besar dan terkenal, maka kariernya di sana agak menanjak. Walau berkali-kali pula dia lebih sering di bangku cadangkan. Namun dengan tekad yang kuat dan pantang menyerah dan memiliki hati sang pemenang, Marco tidak pernah menyerah.
Saudaraku, berhenti menyerah itu sangat mudah, tetapi untuk maju dan bangkit itu adalah tantangan. Pemenang bukanlah orang yang tidak pernah gagal. Tetapi ia adalah orang yang tidak pernah berhenti untuk mencoba. Nah, demikian pula ketika kita hendak meraih cita-cita kita, jangan pernah menyerah untuk terus bangkit dan menerima tantangan hidup. Bila kita gagal sekali, bukan berarti kita tidak mempunyai harapan. Justru kegagalan mengajar kita menjadi pribadi yang pantang menyerah.
Saudaraku, Musa sempat tidak percaya diri untuk memimpin bangsa Israel untuk keluar dari Mesir: Yunus nyaris tidak percaya diri menyampaikan pesan Tuhan ke Tarsis: Yusuf dan Daniel pernah terpuruk keadaannya, namun akhirnya mereka semua menjadi orang kepercayaan raja. Mereka tidak pernah putus asa atau menolak tantangan hidup yang ada. Karena mereka berjiwa pemenang, akhirnya mereka benar-benar tampil sebagai seorang pemenang.
Saudaraku, raihlah cita-citamu setinggi langit dan jangan pernah menyerah atau berputus asa, karena bila kita berpegang teguh atas pengharapan dari Tuhan, maka kita akan menjadi seorang pemenang.
“Hati seorang pemenang tidak diwarnai keputusasaan”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati