Halaman

Senin, 03 Maret 2014

MENGAKHIRI DENGAN DAGING



“Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.” (2 Korintus 6:17)

Jika ada orang Kristen yang kembali kepada dunia dan menyangkal imannya berarti sedang berbalik arah, ke luar dari jalan kehidupan kekal (sorga) ke jalan kebinasaan kekal (neraka).
Kembali ke dunia berarti kompromi dengan dosa dan tidak lagi hidup dalam kekudusan. Yang Tuhan kehendaki adalah kita tetap bertahan di segala situasi, baik kelimpahan atau kekurangan, suka atau duka sampai akhir hidup kita, sebab apa yang akan kita peroleh di kekelan kelak tidak sebanding dengan apa yang kita dapatkan di dunia ini. “....penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” (Roma 8:18). Terhadap orang percaya yang murtad itu Alkitab menyatakan, “....mereka yang pernah diterangi hatinya, yang pernah mengecap karunia sorgawi, dan yang pernah mendapat bagian dalam Roh Kudus, dan yang mengecap firman yang baik dari Allah dan karunia-karunia dunia yang akan datang, namun yang murtad lagi, tidak mungkin dibaharui sekali lagi sedemikian, hingga mereka bertobat, sebab mereka menyalibkan lagi Anak Allah bagi diri mereka dan menghina-Nya di muka umum.” (Ibrani 6:4-6). Adalah lebih baik jika seseorang tidak pernah mengenal kebenaran sama sekali, daripada sudah mengenal kebenaran tapi berbalik lagi kepada dunia, karena orang yang demikian keadaannya akan lebih buruk dari keadaan sebelumnya. Tidak saja lebih buruk, namun ia telah melakukan penghinaan besar terhadap pengorbanan Kristus di atas Kalvari demi menebus dosa-dosanya.
Bukankah saat ini banyak orang Kristen yang meremehkan korban Kristus di kayu salib? Mereka menyia-nyiakan anugerah keselamatan yang telah diterimanya, menjual dan menukarnya dengan apa yang ada di dunia ini (demi harta, tahta, dan wanita). Mereka rela menyangkal Kristus demi harta kekayaan, uang, pasangan hidup, jabatan, popularitas dan sebagainya. Ironis sekali!
“Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!” (Galatia 3:3-4).
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati

KEMBALI KEPADA DUNIA



“Bagi mereka cocok apa yang dikatakan peribahasa yang benar ini: "Anjing kembali lagi ke muntahnya, dan babi yang mandi kembali lagi ke kubangannya." (2 Petrus 2:22)

Di zaman sekarang ini banyak anak Tuhan mengalami kejatuhan mereka tak segan-segan meninggalkan Tuhan karena tergiur segala perkara yang ditawarkan oleh dunia. Padahal awalnya mereka begitu mengasihi Tuhan, memiliki semangat yang berkobar-kobar dalam melayani pekerjaan Tuhan, dan tiada hari tanpa membangun persekutuan yang karib dengan Tuhan. Sebuah langkah awal yang sangat indah! Sangat disesalkan, dalam perjalanan selanjutnya kerohanian mereka bukannya makin bertumbuh, namun sebilknya makin merosot. Mereka kehilangan kasih mula-mula kepada Tuhan seperti yang dialami jemaat di Efesus sehingga Tuhan menegur mereka dengan keras,   Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” (Wahyu 2:5).
Mengapa banyak orang Kristen kehilangan kasih mula-mula dan kemudian meninggalkan Tuhan? Karena mereka telah terpesona dan terpikat oleh gemerlap dunia ini sehingga mereka mengalami kesuaman, tidak dingin, tidak panas, berkompromi lagi dengan dosa. Firman Tuhan menegaskan, “Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” (Wahyu 3:16). Jika kita waspada dan tak segera menyadari hal ini tidak tertutup kemungkinan kita yang sudah melayani Tuhan pun bisa kembali kepada kehidupan lama dan bersahabat dengan dunia yang sarat dengan segala keinginan dan rupa-rupa kecemaran ini...lupa atau sengaja lupa dengan status kita sebagai anak-anak terang, yang telah dipindahkan dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib dengan tujuan supaya kita menceritakan perbuatan-perbuatan besar dari Tuhan.
“Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang,” (Efesus 5:8).
Sebagai orang percaya kita dipanggil bukan untuk melakukan hal-hal yang cemar, melainkan apa yang kudus “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” (1 Tesalonika 4:7). Maukah kita kembali lagi kepada dunia (dosa)?
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

MARI BERKOMITMEN SEUMUR HIDUP DALAM MELAYANI TUHAN



“Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” (Roma 14:8)

Tanpa memiliki komitmen yang kuat sulit rasanya seseorang dapat bertahan lama melayani Tuhan. Sedangkan untuk dapat berkomitmen melayani Tuhan seumur hidup kita harus mendasarinya dengan kasih dan kesetiaan. Jika kita mengasihi Tuhan dengan sungguh, apapun yang kita perbuat akan kita lakukan dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Apabila kasih kepada Tuhan ini sudah menjadi dasar, kita pun akan setia mengerjakan segala perkara, baik itu perkara kecil maupun besar sampai akhir hidup ini.
Raja Saul adalah contoh orang yang tidak bisa memegang komitmennya dalam melayani Tuhan sampai akhir: berhasil pada tahap awal, tetapi gagal pada akhirnya. Begitu juga dengan Salomo, setelah dipercaya Tuhan dengan segala kekayaan dan hikmat yang luar biasa, ia akhirnya gagal menjaga kekudusan hidupnya dan jatuh dalam penyembahan berhala, “Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya.” (1 Raja-Raja 11:4). lebih baik kita gagal di awal tetapi berhasil sampai garis akhir seperti Rasul Paulus. “Akhir suatu hal lebih baik dari pada awalnya.” (Pengkhotbah 7:8). Bukan langkah pertama yang penting tapi langkah yang terakhir itulah yang menentukan. “....banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu." (Matius 19:30). Meski demikian, yang terbaik adalah berkomitmen dan setia dari awal sampai akhir seperti yang diteladankan oleh Tuhan Yesus.
Di akhir zaman ini banyak orang yang begitu mudah berubah . mereka tidak lagi setia melayani Tuhan oleh karena masalah sakit-penyakit, penderitaan, bahkan juga kelimpahan. Mereka berkata, “Percuma melayani Tuhan, hanya buang-buang waktu dan uang.” Kita lupa bahwa dengan melayani Tuhan seumur hidup kita akan diberkati oleh Tuhan sehingga pekerjaan kita berhasil dan tahan uji.
“Tuhan Yesus sudah berkorban dan rela mati bagi kita, masakan kita tidak mau melayani dan melakukan yang terbaik bagi Dia seumur hidup kita?”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

JANGAN DENGAR SUARA IBLIS



“Anak-anakku, janganlah membiarkan seorangpun menyesatkan kamu.” (1 Yohanes 3:7a)

Jika suara Tuhan adalah suara yang membawa seseorang kepada keselamatan, kesembuhan dan keberkatan, sebaliknya suara iblis adalah suara yang membawa kepada kebinasaan, kehancuran dan kegagalan, karena misi iblis adalah untuk mencuri, membunuh dan membinasakan manusia. “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan;” (Yohanes 10:10a).
Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa dan harus terusir dari taman Eden karena mereka mendengar suara iblis (bisa di baca di Kejadian 3:1-7). Tidak ada kebenaran di dalam diri iblis karena suaranya adalah dusta dan kebohongan, “....sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.” (Yohanes 8:44). Maka jangan sekali-kali membuka telinga atau memberi kesempatan sedikitpun kepada iblis untuk mendengarkan suaranya. Suara iblis hanyalah penghasut, mengintimidasi, melemahkan dan mendakwa manusia. Iblis memakai dunia ini sebagai sarana untuk memikat, menggoda, memperdaya dan menyeret manusia agar semakin jauh dari kebenaran. Firman Tuhan memperingatkan. “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” (1 Yohanes 2:15-17).
Karena mendengar suara iblis banyak orang lebih memilih berkompromi dengan dosa dan mengasihi dunia ini daripada Tuhan. “Tidakkah kamu tahu, bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah?” (Yakobus 4:4). Akhirnya fokus hidup mereka hanya untuk mengejar materi semata sehingga hari-hari mereka dipenuhi segala keinginan untuk memuaskan nafsu kedagingannya. “Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (Galatia 5:19-21).
“Semakin mendengar suara iblis semakin kita hidup dalam kekuatiran, ketakutan dan kebimbangan, yang kesemuanya adalah tanda ketidakpercayaan kepada Tuhan.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati

MELAYANI TUHAN PEKA DENGAN SUARA TUHAN



“Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh,” (Pengkhotbah 4:17)

Supaya dapat menghasilkan perkataan atau ucapan yang positif seorang pelayan Tuhan harus mempertajam pendengarannya setiap hari untuk mendengar seperti seorang murid. “Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.” (Yesaya 50:4b). Kita tidak akan mampu berkata-kata tentang hal-hal yang baik dan benar sebelum kita membiasakan diri mendengar kebenaran, di mana sumber kebenaran itu adalah firman Tuhan. “Dasar firman-Mu adalah kebenaran..” (Mazmur 119:160).
Memperkatakan kebenaran adalah tugas pelayan Tuhan. Memperkatakan kebenaran berarti apa yang keluar dari mulut kita adalah perkataan yang senantiasa memberitakan kabar keselamatan kepada orang lain, menghibur, menguatkan, mendorong dan dipenuhi oleh kasih, dan untuk itu diperlukan suatu proses atau latihan seumur hidup kita yaitu dengan mempertajam pendengaran kita terhadap firman Tuhan setiap hari. Saat kita mendengarkan firman Tuhan kita sedang mendengar suara Tuhan. Mengapa kita harus selalu mendengar suara Tuhan? Karena suara-Nya adalah suara yang mendatangkan iman dan kehidupan. “...iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17). Saat berada di bumi kehadiran Yesus benar-benar membawa dampak yang luar biasa. Di mana ada Yesus di situ selalu terjadi mujizat. Ketika mendengar suara-Nya orang sakit disembuhkan, angin ribut menjadi teduh saat Yesus memperdengarkan suara-Nya. Ketika Yesus berkata, “...marilah keluar!”, maka Lazarus yang sudah empat hari terbaring di dalam kubur pun bangkit dan hidup kembali.
Perkataan Tuhan Yesus adalah Firman yang berkuasa, yang sanggup menyelamatkan, menyembuhkan, memulihkan dan mengubahkan hidup siapa pun yang mau mendengar dan percaya kepada-Nya; dan kita yang sudah mendengar suara Tuhan ini memiliki tugas sebagai penyambung lidah-Nya untuk memberitakan kebenaran dan bersaksi tentang Dia.
“demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.” (Yesaya 55:11)
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.