Halaman

Senin, 23 Desember 2013

GENERASI TANPA TUHAN.



“bangkitlah sesudah mereka itu angkatan yang lain, yang tidak mengenal TUHAN ataupun perbuatan yang dilakukan-Nya bagi orang Israel.” (Hakim-Hakim 2:10).

Eropa sebelum abad ke-19 bisa dikatakan pusat kekristenan dunia. Dari Eropalah kekristenan tersebar ke suluruh dunia (termasuk Indonesia). Akan tetapi, beberapa survei menunjukkan bahwa saat ini kekristenan di Eropa mengalami penurunan drastis. Banyak orang sudah enggan ke gereja lagi. Gereja sudah menjadi kosong sehingga tidak aneh jika kemudian kita kita melihat gereja telah berubah fungsi. Ada yang menjadi ruang pameran, tempat hiburan atau museum bahkan lebih menyedihkan ada juga gereja di jadikan tempat ibadah agama lain.
Kondisi yang sama terjadi dalam kehidupan bangsa Israel. Pada masa kepemimpinan Yosua, mereka menyembah kepada Allah. Akan tetapi, kondisinya jauh berbeda setelah Yosua meninggal. Generasi berikutnya tidak lagi mengenal Tuhan dan karya yang telah dilakukan-Nya bagi bangsa Israel. Bahkan mereka menyembah kepada ilah-ilah lain “Mereka meninggalkan TUHAN, Allah nenek moyang mereka yang telah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, lalu mengikuti allah lain, dari antara allah bangsa-bangsa di sekeliling mereka, dan sujud menyembah kepadanya, sehingga mereka menyakiti hati TUHAN. Demikianlah mereka meninggalkan TUHAN dan beribadah kepada Baal dan para Asytoret.” (Hakim-Hakim 2:12-13). Ironis, karena pada mulanyaTuhan memilih bangsa Israel untuk suatu rencana agung. Tuhan ingin mereka bisa membawa bangsa lain datang kepada-Nya. Tetapi, generasi penerus ini tidak memahami maksud Tuhan, dan malah mengikuti penyembahan berhala oleh bangsa lain. Tidak heran hal ini membangkitkan murka Tuhan “Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap orang Israel. Ia menyerahkan mereka ke dalam tangan perampok dan menjual mereka kepada musuh di sekeliling mereka, sehingga mereka tidak sanggup lagi menghadapi musuh mereka. Setiap kali mereka maju, tangan TUHAN melawan mereka dan mendatangkan malapetaka kepada mereka, sesuai dengan apa yang telah diperingatkan kepada mereka oleh TUHAN dengan sumpah, sehingga mereka sangat terdesak.” (Hakim-Hakim 2:14-15). Ada yang salah dalam kehidupan rohani bangsa Israel sehingga generasi penerusnya meninggalkan Tuhan.
Kita juga ditetapkan untuk mengajarkan iman yang benar kepada anak kita. Setiap orangtua bertanggung jawab untuk memperkenalkan kasih Tuhan kepada anaknya, dengan harapan nantinya mereka menjadi orang beriman. Sekarang ini banyak diantara anak kita, adik kita, saudara kita yang baru saja merayakan Natal di Sekolah Minggu atau Natal Naposo, jangan hanya perayaannya saja yang dapat membuat mereka mengenal Tuhan Yesus, tetapi hari-hari setelah perayaan tersebut kita sebagai orangtua secara terus menerus memberitakan berita firman Tuhan kepada mereka. Karena mereka adalah generasi penerus yang tidak boleh kita biarkan jatuh ke dalam dosa yang besar. Dengan semakin canggihnya technologi, perubahan kultur budaya, internet yang semakin menggiurkan, dan masih banyak lagi yang dapat menggoda mereka untuk dapat dengan mudahnya melupakan ajaran Tuhan Yesus. Jika kita lalai, besar kemungkinan anak cucu kita kelak tidak lagi percaya Tuhan Yesus.
“Ketika kita mengajarkan iman dengan setia, kita mempersiapkan generasi yang mengasihi Tuhan Yesus.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

JANGAN LIHAT SAMPULNYA



“Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.” (Roma 14:10)

Lee So Young, seorang perempuan asal Korea yang berusia 34 tahun bekerja sebagai desainer magang di Perusahaan garmen The Style. Latar belakang pendidikannya hanya sampai SMA dan belum mempunyai pengalaman. Seringkali ia direndahkan para seniornya. Namun karena menjadi desainer pakaian adalah cita-citanya sejak kecil, So Young tidak mau menyerah meski sering direndahkan. Berkat kegigihannya, ia berhasil membuktikan kemampuannya dengan selalu memenangkan kompetisi yang diadakan The Style. Setahun kemudian, namanya pun sudah di kenal berbagai kalangan pencinta fashion termasuk selebritis di Korea Selatan papan atas.
Direndahkan atau diremehkan memang tidak menyenangkan. Meskipun kita tahu dua hal tersebut tidak menyenangkan, herannya kita masih sering menilai orang lain dengan sembarangan. Kita belum mengenal secara mendalam orang itu, tetapi kita sudah berani menjabarkan kekurangannya tanpa melihat kelebihannya. Padahal orang tersebut punya kelebihan yang kita sendiri tidak punya. Pertanyaannya, mengapa kita, umat Kristiani tidak boleh menilai seseorang (baca: menghakimi)?
Saudaraku, mari kita dari pengajaran rasul Paulus pada perikop, ada beberapa alasan kita tidak boleh menghakimi. Pertama, karena kita hamba Allah dan Dia adalah Tuannya “Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.” (Roma 14:4). Kedua, karena hidup dan mati kita adalah milik Tuhan sehingga apa pun yang kita perbuat di bumi semuanya ditujukan bagi-Nya, bukan manusia ataupun diri sendiri. “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup.” (Roma 14:8-9). Ketiga, karena setiap perbuatan kita kelak harus dipertanggungjawabkan pada Sang Pencipta. “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah.” (Roma 14:10c).
Saudaraku, jujur, Anda pasti tidak suka bukan kalau ada orang meremehkan dan merendahkan Anda? Nah, kalau diri sendiri saja tidak suka di buat seperti itu, maka janganlah kita merendahkan dan meremehkan orang lain. Anda setuju?
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

MENIPU DIRI SENDIRI



“Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu.” (Mazmur 5:7)

Tak seorangpun dari kita yang mau jika dirinya disebut sebagai penipu. Secara umum, gambaran kita tentang penipu adalah orang yang terlibat dalam aksi kejahatan atau kriminalitas. Penipu adalah orang yang telah berkata bohong (tidak jujur), menipu orang lain, memutarbalikkan fakta atau perkataannya menyimpang dari kebenaran. Yang jelas tindakan penipuan itu sangat merugikan orang lain dan juga bertentangan dengan hukum; dan penipu tidak masuk ke dalam Kerajaan Sorga “Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.” (1 Korintus 6:9-10).
Alkitab menyatakan bahwa tindakan menipu itu tidak hanya sebatas berkenaan dengan ucapan atau perkataan seseorang, namun memiliki makna yang lebih luas. Pertanyaan: pernahkah kita menipu diri sendiri? dengan spontan kita akan berkata bahwa itu pertanyaan yang tidak masuk akal. Masakan ada orang yang menipu dirinya sendiri? inilah yang tidak dasari oleh banyak orang Kristen, padahal ini merupakan sebuah realita kehidupan. Berikut ini adalah bukti seseorang telah menipu dirinya sendiri. 1. Merasa diri tidak berdosa. Ada tertulis, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita.” (1 Yohanes 1:8). Adakah diantara kita yang sempurna, tidak berbuat dosa atau melakukan pelanggaran? Alkitab menegaskan bahwa, “"Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.” (Roma 3:10). Tapi masih banyak orang Kristen yang merasa dirinya paling benar. Jika kita demikian tak ubahnya kita seperti ahli Taurat dan orang Farisi yang dikecam oleh Tuhan Yesus, “...di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan.” (Matius 23:28). Jika kita merasa benar dan tidak berdosa, berarti kita ini adalah orang-orang yang menipu diri sendiri.
Jangan menjadi orang yang munafik! Mari jujur dan mengakui segala dosa dan pelanggaran kita di hadapan Tuhan, sebab “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” (1 Yohanes 1:9). Merasa diri benar adalah salah satu bukti bahwa kita menipu diri sendiri.
“Barangsiapa berkata: Aku mengenal Dia, tetapi ia tidak menuruti perintah-Nya, ia adalah seorang pendusta dan di dalamnya tidak ada kebenaran.” (1 Yohanes 2:4).
Kita dikatakan menipu diri sendiri jika: 2. Kita hidup dalam ketidaktaatan atau tidak melakukan perintah Tuhan. Kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan dan mengenal Dia, tapi bila kita tidak menuruti perintah-Nya kita disebut sebagai pendusta atau penipu. Yakobus pun juga menegaskan, “...hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.” (Yakobus 1:22). Seringkali kita tampak “rohani” di situasi-situasi tertentu saja, saat berada di gereja atau pada saat jam-jam ibadah saja. Selebihnya di hari-hari biasa, saat menjalani kehidupan di tengah-tengah dunia, kita terbawa oleh arus dunia ini dan hidup serupa dengan dunia ini, padahal firman-Nya menyatakan: “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2). Rasul Paulus mengingatkan, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” (1 Tesalonika 4:7).
Yakobus dalam suratnya berkata, “Jikalau ada seorang menganggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya.” (Yakobus 1:26). Sudahkah kita menguasai ucapan atau lidah kita? Kita mudah sekali melakukan pelanggaran dalam hal ucapan. Kita mudah sekali berkata jorok, mengumpat orang lain, mengeluarkan sumpah serapah, menggosip atau membecirakan orang lain dan sebagainya. Berhati-hatilah! Jika kita bertindak demikian, sia-sialah ibadah kita. Itulah sebabnya pemazmur bertekad, “Aku hendak menjaga diri, supaya jangan aku berdosa dengan lidahku;” (Mazmur 39:2), sebab “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.” (Amsal 18:21).
Selain daripada hal-hala di atas, Alkitab juga mencatat bahwa jika seseorang tidak mengembalikan persepuluhan yang merupakan milik Tuhan ia disebut juga sebagai orang yang telah menipu Tuhan. “Bolehkah manusia menipu Allah? Namun kamu menipu Aku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menipu Engkau?" Mengenai persembahan persepuluhan dan persembahan khusus!” (Maleakhi 3:8).
“Ibadah yang tidak disertai dengan ketaatan melakukan firman Tuhan adalah penipuan terhadap diri sendiri.”
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

MENDATANGKAN TANGAN TUHAN



“Bukankah Engkau yang membuat pagar sekeliling dia dan rumahnya serta segala yang dimilikinya? Apa yang dikerjakannya telah Kauberkati dan apa yang dimilikinya makin bertambah di negeri itu.” (Ayub 1:10).

Menurut Anda apa sih fungsi pagar? Zaman sekarang fungsi pagar tidak hanya sebagai pengaman rumah, tapi ada beberapa fungsi lainnya seperti, memperindah tampilan eksterior bangunan. Pembatas trotoar atau lainnya. Pagar juga berfungsi menutup pandangan dari luar rumah supaya tidak bisa melihat aktivitas keluarga di pekarangan. Tempat untuk menaruh pot bunga, atau langsung menanam pohon hias pagar.
Bicara soal pagar, sebenarnya bukan hanya rumah tinggal, bangunan kantor atau bangunan lainnya juga butuh dipagari. Namun hidup kita pun perlu dipagari. Lho kok bisa? Yaps, tentu karena hidup kita adalah target utama si iblis. Ia selalu berusaha merusak hidup anak-anak Tuhan. Satu-satunya pagar yang bisa menjagai hidup kita dari gangguan si iblis adalah tangan Tuhan. Pertanyaannya, bagaimana caranya supaya tangan Tuhan memagari hidup kita? Bila melihat pada kehidupan Ayub, ada beberapa hal yang harus kita lakukan. (1). Hidup saleh, artinya Anda melakukan kehidupan kerohanian Anda dengan baik. Misalnya rajin beribadah, saat teduh, berdoa dan membaca Alkitab serta merenungkan firman Tuhan setiap hari. (2). Jujur dalam segala hal. (3). Hidup takut akan Tuhan. Artinya hidup sesuai dengan kebenran-Nya dan tidak melakukan yang menyimpang dari ajaran-Nya. Intinya, hiduplah berkenan di hadapan Tuhan seperti Ayub.
Sehebatnya manusia dan secanggih-canggih tekhnologi tidak ada yang sedahsyat tangan Tuhan. Ketika menjaga hidup kita. Jangankan tangan manusia, tangan iblis pun tidak akan sanggup menembus penjagaan tangan-Nya.
Saudaraku, mari kita hidup berkenan di hadapan-Nya agar senantiasa tangan Tuhan membentengi hidup kita dari segala keusilan iblis. Ingatlah, hanya di tangan Tuhan kita menikmati hidup aman!
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.
Nb:
SELAMAT HARI IBU

UNITY DALAM KELUARGA MEMBUAT DOA TERKABUL



“Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. Setelah mereka tiba di kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus bin Alfeus, dan Simon orang Zelot dan Yudas bin Yakobus. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama, dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.” (Kisah Para Rasul 1:12-14)

“Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 18:19)

Hari-hari terakhir ini, kita sedang menantikan peristiwa besar pekerjaan Roh Kudus yang luar biasa yakni Pentakosta yang ketiga. Pentakosta yang ketiga ini kita yakini pasti lebih dahsyat dari Pentakosta yang pertam dan yang kedua.pentakosta yang pertama itulah pengalaman murid-murid setelah Tuhan Yesus naik ke Sorga, mereka berkumpul di loteng atas menantikan apa yang Tuhan lakukan. Roh Kudus dicurahkan, murid-murid dengan pengurapan yang kuat memberitakan Injil, sehingga penduduk dunia 70 % mengenal Tuhan Yesus. Pentakosta yang kedua yakni, peristiwa yang berkatian dengan lawatan Tuhan di Kansas City 1901, Wales 1904 dan Azusa street 1906. Gereja yang tadinya sudah mulai melempem bangkit kembali, sehingga 30 % penduduk dunia mengenal Yesus. Dari total 30 % tersebut 70 % percaya dampak dari pekerjaan Roh Kudus melalui Pentakosta kedua.
Apa yang dilakukan oleh murid-murid saat menanti-nantikan pencurahan Roh Kudus  yang pertama dan kedua? Ada kesamaan yakni beberapa hamba Tuhan berkumpul, mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama. Kisah Para Rasul 1:14, mereka unity. Saat laki-laki dan permpuan, suami istri unity akan terjadi terobosan yang dahsyat. Unity  di dalam Tuhan, merupakan kunci mengalami kemuliaan Tuhan. Unity dalam satu komunitas yang besar, harus dimulai dari komunitas  yang kecil yaitu keluarga. Karena keluarga adalah unit yang terkecil dari masyarakat dan inti keluarga ialah suami isteri. Betapa pentingnya unity dumulai dari suami isteri, kemudian unity antara orangtua dengan anak.  Suami isteri yang tidak dapat unity. Biasanya mereka juga sulit untuk unity dengan anak mereka.

MENGAPA KITA SERINGKALI SULIT UNTUK DAPAT UNITY?
1.       Kurang mengucap syukur.
Firman Tuhan menyatakan, “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita” (Efesus 5:20). Menucap syukur adalah perintah Tuhan. Tetapi mengapa sering terjadi dalam keluarga sulit untuk mengucap syukur? Mengapa suami kurang mengucap syukur? Karena suami fokus kepada kekurangan isteri. Demikian juga isteri fokus kepada kelemahan sang suami, bukan kepada kekuatan dan kebaikannya. Orangtua juga banyak yang mengeluh tentang anak-anak yang telah Tuhan anugerahkan. Karena mereka lebih melihat kekurangan-kekurangan yang ada di dalam diri anak mereka. Padahal setiap anak memiliki potensi yang luar biasa Tuhan berikan.
Karena itu, mulailah hari ini suami, isteri, orangtua, anak, mulai mengucap syukur untuk setiap kebaikan-kebaikan Tuhan yang ada dalam tiap pribadi di dalam keluarga. Suami sebagai imam, banyak bersyukur untuk isteri, karena dibalik keberhasilan seorang suami, sedikitnya ada 2 wanita yang sangat berperan yakni ibu yang melahirkannya, dan isteri sebagai penolong, pendamping dan penghibur bagi suami dan anak-anaknya. Kehadiran Hawa membuat Adam lebih maksimal. Seorang pria menjadi maksimal dalam pernikahan melalui kehadiran seorang isteri yang melakukan perannya dengan baik.
 Isteri juga mulai bersyukur untuk suami yang Tuhan berikan. Coba duduk sejenak dengan hati yang jernih, ingat kembali mengapa engkau menikah dengan suamimu? Pasti dahulu ada beberapa hal yang engkau sukai sehingga menikah dengan dia. Tetapi setelah sekian lama, kebaikan-kebaikan pasangan dapat terlupakan atau tertutup dengan bebarapa kejadian yang mengecewakan. Cobalah mencatat sedikitnya 5 hal yang baik dalam diri suamimu den bersyukurlah untuk hal itu, renungkanlah akan hal itu. Ketika Anda banyak merenungkan kebaikan pasangan Anda, maka ucapan syukur akan lebih mudah mengalir dari kehidupanmu.
Setiap pasangan bersyukurlah untuk setiap anak yang Tuhan titipkan dalam keluarga kita. Tiap anak memiliki karakter dan potensi yang berbeda. Setiap orangtua disebut berhasil apabila mereka dapat membawa setiap anak untuk dapat menggenapi rencana Allah dalam tiap kehidupan putra-putri mereka. Karena itu setiap orangtua hendaknya mendoakan dan mengusahakan semaksimal mungkin, agar setiap anak menggenapi rencana Allah dalam hidupnya.jikalau rencana Allah dipenuhi dalam diri anak, maka itulah pengucapan syukur yang indah dalam kehidupan orangtua. Bukan karena anak memiliki gelar akademis yang tinggi, ataupun ia memiliki fasilitas yang lengkap. Bukan, tetapi anak memenuhi rencana Allah.
2.       Kesombongan Penghalang Utama Untuk Unity.
Firman Tuhan menyatakan: “dan rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus.” (Efesus 5:21). Kesombongan, cenderung untuk meremehkan orang lain, merasa dirinya lebih baik dari pada pribadi lain. Pada sisi lain, tidak ada orang yang suka diremehkan dan direndahkan. Orang yang rendah hati, gampang terlihat melalui sikap yang mudah mengampuni dan tidak mau menyimpan kekecewaan dan kepahitan, di saat terjadi konflik ataupun perbedaan pendapat. Sebaliknya orang yang sombong, sulit mengampuni, bahkan rela menyimpan kepahitan dalam hatinya, bukan hanya berbulan-bulan, kadang kala sampai bertahun-tahun.
Coba sek atau evaluasi dalam keluarga Anda, siapa di antara semua anggota keluarga yang lebih rendah hati, atau lebih rohani? Dalam keluarga bisa terjadi perbedaan pendapat, yang dapat membawa konflik. Jika terjadi satu konflik, misalkan dalam hubungan suami isteri, siapa yang lebih banyak, atau lebih sering memulai percakapan kembali, setelah sekian menit, atau sekian jam, tidak ada komunikasi. Suami? Atau isteri? Firman Tuhan menyatakan “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Lukas 14:11). Apabila suami yang selalu, atau lebih banyak memulai percakapan kembali, atau mengawali membangun komunikasi membangun jembatan komunikasi kembali, berarti suami lebih rendah hati atau isteri yang lebih banyak? Berarti isteri lebih rendah hati. Pernikahan yang saling menuntut, membuat hubungan suami isteri semakin jauh. Sebaliknya pernikahan yang didasari sikap melayani dan membahagiakan pasangannya, akan meningkatkan keintiman dan kemesraan. Karena itu, janganlah menuntut pasangannya untuk terlebih dahulu memulai, tetapi awalilah dari dirimu sendiri. berlomba-lombalah untuk membangun komunikasi kembali di saat terjadi konflik dalam pernikahan.

BERKAT UNITY DALAM KELUARGA
1.       Permohonan Doa Mereka dikabulkan oleh Bapa di Sorga.
“Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.” (Matius 18:19). Ada janji Tuhan bagi mereka yang sepakat, unity, sehati, one accord. Dalam bahasa Yunani kata sepakat dipakai istilah “sumphoneo”, yang kemudian kita kenal istilah “symphony”. Symphony berarti satu kumpulan grup musik yang memainkan berbagai istrument musik yang berbeda namun mereka memainkan satu nada dalam kunci yang sama, sehingga keluarlah harmoni suara yang indah terdengar.
Siapa dua orang dalam dunia ini yang paling dapat sepakat? Tidak ada yang lain kecuali seorang suami dan seorang isterinya. Ketika mereka sepakat dalam Tuhan, sepakat, unity juga bersama anak-anak mereka, maka ada janji Tuhan, permohonan doa mereka dikabulkan oleh Bapa di Sorga. Kesepakatan, unity yang telah dibangun dalam keluarga, membuat lebih mudah untuk unity dalam gereja Tuhan. Karena gereja terdiri dari keluarga-keluarga.
Apakah ada doa Anda yang belum dikabulkan oleh Tuhan? Kalau ada, coba selidiki hatimu, apakah Anda sudah sepakat sebagai suami isteri? Sepakat dengan rekan kerja/bisnismu? Sepakat dengan teman kuliahmu? Dan lain-lain.
2.       Menikmati Kehadiran dan Kemuliaan Tuhan
“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:20). Mereka yang berkumpul sepakat, unity dalam Tuhan, maka Tuhan hadir. kehadiranTuhan, membuat suasana rumah menjadi ceria dan suasana surga ada di tengah-tengah keluarga. Keindahan dan kebahagian keluarga bukanlah ditentukan oleh fasilitas ataupun materi. Materi yang berlimpah dan fasilitas yang baik, tanpa kehadiran Tuhan menjadi hampa dan kurang bermakna. Sebaliknya kehadiran Tuhan walaupun ditengah fasilitas yang sederhana, manjadikan suasana yang indah, bahkan semua anggota keluarga diberikan Tuhan karunia untuk dapat menikmatinya.
Kehadiran Tuhan membuat segala sesuatu menjadi berubah.masalah apa pun yang kita hadapi, persoalan yang sangat berat, badai datang silih berganti, kesulitan keuangan, pergumulan hubungan suami isteri, apa saja, jikalau Yesus hadir, maka kehadiran-Nya dapat merubah suasana, jika kita memberikan respons yang positif dan membuka hati.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati