Halaman

Jumat, 31 Januari 2014

HARGA MATI



"Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 19:21)

Kepada orang muda kaya yang bermaksud memiliki hidup kekal (hidup yang berkualitas tinggi). Tuhan Yesus menetapkan harga mati yang tidak boleh dikurangi. Agar bisa sempurna atau dikenan-Nya, Tuhan memintanya meninggalkan semua harta miliknya dan menggantinya dengan mengikut Yesus.
Orang muda kaya tersebut rupanya tidak bersedia memenuhi apa yang dikehendaki Tuhan. Matius mencatat bahwa ia pergi dengan sedih, sebab banyak hartanya. Apakah Yesus lalu berpikir, “Sayang, orang itu jangan sampai pergi” lantas memanggilnya untuk berbalik kembali kepada-Nya, dan bersedia mengurangi “harganya?” Tidak, Yesus tidak berkenan kepadanya. Ia membiarkan orang muda itu pergi untuk binasa. Di sini tampak jelas bahwa Tuhan tidak mau berkompromi dengan manusia yang tidak bersedia tunduk kepada-Nya secara mutlak.
“Perkenanan Bapa adalah standar hidup yang dimiliki setiap anak Tuhan; tidak bisa dikurangi.” Bapa bukan pedagang yang mau tawar-menawar dengan pembeli demi barangnya laku atau terbeli. Ia sudah menetapkan harga, dan Ia tidak menginginkannya ditawar sama sekali. Manusia mau “membelinya”, silahkan; kalau tidak mau, ya silahkan.
Harga mati ini berarti standar “dikenan Bapa” yang ditetapkan Tuhan adalah mutlak dan permanen. Dalam hal ini, Tuhan belum tentu menerima orang yang merasa dirinya baik, atau bahkan dinilai baik oleh semua orang, sebab kebaikan di mata diri sendiri dan orang lain bukanlah harga yang diterima Bapa. Jadi jangan sekali-kali merasa sudah dikenan Bapa karena merasa diri sendirri sebagai orang baik atau dinilai sebagai orang baik oleh manusia lain. Itu subjektivitas manusia belaka. Kebaikan harus dipandang dari mata Bapa, yaitu dengan melakukan kehendak-Nya.
Oleh sebab itu kita harus sungguh-sungguh berusaha setiap hari untuk memiliki kehidupan yang dikenan-Nya. Usaha itu tidak boleh setengah-setengah atau asal-asalan, tetapi harus dengan segenap hati, jiwa, ketaatan dan seluruh akal budi kita. Tanpa didasari segenap kehidupan kita, kita tidak mungkin sampai kepada target yang dikehendaki Bapa. Kalau ini dapat diraih orang dengan mudah, sebab seperti tertulis di Alkitab, “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih." (Matius 22:14). Kesediaan berusaha untuk meraih target ini merupakan respons yang benar terhadap keselamatan yang disediakan Tuhan bagi kita; jika kita tidak bersedia, berarti kita menyia-nyiakan keselamatan itu “bagaimanakah kita akan luput, jikalau kita menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu,” (Ibrani 2:3).
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar