Halaman

Jumat, 24 Januari 2014

KUASA ALLAH MEMBUKA PINTU MUJIZAT PADA BARTIMEUS



“Tanya Yesus kepadanya: "Apa yang kaukehendaki supaya Aku perbuat bagimu?" Jawab orang buta itu: "Rabuni, supaya aku dapat melihat!" Lalu kata Yesus kepadanya: "Pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau!" Pada saat itu juga melihatlah ia, lalu ia mengikuti Yesus dalam perjalanan-Nya.” (Markus 10:51-52)

Dalam perikop ini Markus mengkisahkan kejadian nyata ketika Yesus ada di Yerikho, lalu di pinggir jaln ada seorang yang buta sejak lahirnya, yang bernama Bartimeus, yang mengharapkan perubahan pada dirinya melalui Yesus, setelah tujuh ayat dalam kisah ini maka Bartimeus yang buta dapat melihat dengan sempurna.
Bagi banyak orang percaya kuasa Allah hanyalah sesuatu yang abstrak, tidak real, bahkan sudah tidak terjadi lagi mujizat itu hanya pada zaman Yesus hadir di muka bumi saja, atau kuasa Allah hanya ada dalam bentuk nyanyian, slogan, tulisan bahkan hanya sebuah khotbah yang menarik. Tetapi harus kita ketahui dan sadari bahwa kerinduan Yesus Kristus adalah untuk menyatakan kuasa-Nya bagi setiap orang percaya saat mereka menghadapi hal-hal yang bagi mereka adalah sesuatu yang mustahil. Ada banyak masalah yang tak terselesaikan, penyakit yang tak dapat disembuhkan, hati yang kecut dan tawar, serta kehidupan rohani yang terpisah dari Allah.
Apa saja yang dilakukan oleh Bartimeus sehingga pintu mujizat itu terbuka dan menjadi nyata dalam hidupnya serta mengubah penyakitnya dari kebutaan menjadi melihat?
1.       Keyakinan Kemenangan bukan Keputus-asaan.
Bartimeus telah menderita kebutaan selama bertahun-tahun dan tidak ada seorang manusia pun yang sanggup dan mampu untuk mengubah keadaannya, tetapi Bartemeus tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh putus asa. Kemengan atau kekalahan dimulai dari hati kita. Alkitab berkata dengan tegas “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10). Putus asa berasal dari hati yang meragukan Allah dan kuasa-Nya.
Ketika Bartimeus mendengar berita-berita tentang Kristus, keyakinan akan kemenangan dalam pergumulannya dibangkitkan karena kemenangan berasal dari hati yang percaya akan kuasa dan kesanggupan Allah. Orang yang percaya penuh kepada Yesus Kristus tidak putus asa dan tawar hati dalam menghadapi masalah, ia tidak meluhat besarnya, sulitnya dan kesukaran pada masalah, tetapi melihat besarnya kuasa Allah yang sanggup memberikan kemenangan pada dirinya. Ini yang menjadikan Bartimeus tetap memiliki keyakinan akan kemenangan dalam menghadapi pergumulan kehidupannya.
2.       Tak Kenal Menyerah Dalam Situasi Yang Sulit.
Yang tertulis di firman-Nya, Ketika didengarnya, bahwa itu adalah Yesus orang Nazaret, mulailah ia berseru: "Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!" Banyak orang menegornya supaya ia diam. Namun semakin keras ia berseru: "Anak Daud, kasihanilah aku!"” (Markus 10:47-48), maka kita mendapatkan suatu spirit dalam doa yang dilakukan oleh Bartimeus. Ketika dia berseru kepada Yesus maka ada banyak orang yang menghalangi dan menyuruhnya untuk diam, tetapi Bartimeus tidak tawar hati dan dia memiliki hati yang tetap untuk terus berseru dan berseru sampai sesuatu terjadi melalui doanya. Semangat yang tak kenal menyerah dalam doa dan mengerang kepada Tuhan Yesus dimiliki oleh Bartimeus. Jangan buang waktu dan tenaga untuk hal-hal yang membuat kita tawar hati dan kehilangan kekuatan, tetapi tetaplah maju dalam doa. “Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.” (Mazmur 126:6). Dibutuhkan tindakan atau langkah doa yang terus-menerus untuk mengalami kuasa mujizat, jangan menyerah, karena Allah rindu untuk kita menghampiri Dia dalam doa di tengah penderitaan dan kesesakan kita. Seruan Bartimeus kepada Yesus untuk menyatakan belas kasihan-Nya dengan berkali-kali dan semakin keras walau disuruh oleh banyak orang supaya ia diam dan diam serta tak bersuara lagi, tidak menyurutkan tekad Bartimeus untuk mundur dalam situasi ini. Tuhan rindu supaya kita membuat dan melakukan terobosan pada sesuatu yang tidak menyenangkan untuk mengalami hal-hal yang baru dalam kehidupan yaitu teruslah maju dalam doa, jangan menyerah sampai kita pilang membawa berkas-berkasnya dari pintu mujizat yang sudah terbuka bagi kita.
3.       Ketaatan Untuk Menanggalkan Jubah
Tertulis “Lalu ia menanggalkan jubahnya, ia segera berdiri dan pergi mendapatkan Yesus.” (Markus 10:50). Maka suatu tindakan yang dilakukan oleh Bartimeus adalah dengan menanggalkan jubahnya untuk menghampiri Yesus Kristus. Ada bahagian kita dalam setiap mujizat dan kuasa Allah yang akan dinyatakan yaitu “ketaatan akan firman Tuhan”. Taat untuk menanggalkan jubah manusia lama. “Tetapi di Sardis ada beberapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya; mereka akan berjalan dengan Aku dalam pakaian putih, karena mereka adalah layak untuk itu.” (Wahyu 3:4). Jubah atau pakian berbicara tentang kehidupan, ubah jubah manusia lama dengan pakaian putih supaya kita berjalan bersama dengan Yesus Kristus untuk menghadapi dan melewati semua pergumulan yang ada. Dalam hal ini juga berbicara tentang kataatan untuk melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan pada zaman ini dalam setiap aspek hidup kita sehingga kita menjadi pribadi yang berkenan di hati Tuhan, minta kepada Tuhan Yesus seperti satu pujian yang mengubah diri kita: “Dia jamah segenap hidupku, dan bri damai di hatiku, semua tlah berubah dan aku tahu Yesus jamah, ku jadi baru.”
4.       Perkataan Iman
Allah tidak akan menjamah atau melakukantindakan mujizat pada orang yang memiliki imian kepada Dia, seperti bacaan di atas maka kita mengetahui bahwa Bartimeus memiliki iman kesembuhan, sehingga Yesus mengatakan pergilah dan imanmu telah menyelamatkan engkau, meka terjadilah mujizat kepada Bartimeus dengan dapat melihat dari kedua matanya. Ucapan supaya dapat melihat di tengah kondisi yang masih buta dari Bartimeus adalah bentuk dari wujud iman yang ada dalam dirinya dan diperkatakan. Sebagai orang percaya kita harus yakin ada kuasa di dalam perkataan orang yang beriman, perkataan-perkataan yang berisi firman Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia ke dalam kehidupan kita.
Paulus dengan tegas mengaitkan iman dengan perkataan, “Namun karena kami memiliki roh iman yang sama, seperti ada tertulis: "Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata", maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.” (2 Korintus 4:13). Iman yang diperkatakan akan mendatangkan kuasa Allah yang dinyatakan dalam hidup kita, jangan ragu untuk terus memperkatakan pintu mujizat sudah dibuka oleh Allah dalam hidupmu, sebab hal ini bukan sekedar slogan tetapi Yesus Kristus benar-benar akan menggeapinya bagi kita di tahun ini.
Amin.
Tuhan Yesus Memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar